Begini Jika Mahasiswa IAIN Salatiga Lantunkan Lagu di Gereja

Paduan suara IAIN Kota Salatiga melantunkan lagu di GKJ Sidomukti, Kota Salatiga, Jateng, Minggu (1/4 - 2018). (Facebook/Lili Gunawati)
02 April 2018 15:07 WIB Ginanjar Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SALATIGA – Kota Salatiga di Jawa Tengah (Jateng) telah mendapatkan predikat kota paling toleran dari Setara Institute pada 2017. Beberapa kali warga di kota tersebut juga mampu menunjukkan kerukunan antar-umat beragama.

Di Hari Paskah yang jatuh pada Minggu (1/4/2018), kelompok paduan suara yang berasal dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kota Salatiga bahkan tak segan untuk turut mengisi peringatan Paskah di Gereja Kristen Jawa (GKJ), Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga. Paduan suara dari IAIN Kota Salatiga itu bahkan melantunkan satu lagu di hadapan para jemaat gereja yang datang.

Kerukunan umat beragama itu kemudian mencuat di media sosial Facebook setelah pengguna akun Facebook Metta Maryana membagikan video kisah unik tersebut di beberapa grup Facebook, seperti Kabar Salatiga dan Cinta Salatiga. Pada keterangan video, ia memuji anggota paduan suara dari IAIN Kota Salatiga yang menurutnya mampu menjaga kerukunan antar-umat beragama.

"Pengisian lagu dari Paduan Suara IAIN Salatiga dalam ibadah Paskah di GKJ Sidomukti pagi ini [Minggu]. Damainya kotaku. Dimana dalam keragaman, semua bisa hidup berdampingan dalam suasana yang penuh cinta. Tuhan Memberkati kita semua," ungkapnya.

Pada video itu, sang pemandu acara dalam ibadah Paskah di GKJ Sidomukti membenarkan keompok paduan suara tersebut berasal dari IAIN Kota Salatiga. "Terima kasih paduan suara dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga," ungkap si pemandu acara.

Namun demikian, kisah unik yang menunjukkan kerukunan antar-umat beragama itu kemudian menjadi kontroversi di antara netizen. Banyak yang memberikan pujian kepada kelompok paduan suara tersebut, namun tak sedikit pula yang justru mencibir lantaran mahasiswa yang notabene dari perguruan tinggi berbasis Islam itu justru mengisi acara di salah satu hari besar agama lain.

Bangga sekali dengan keanekaragaman kalian, bermacam-macam tapi satu. Itulah Salatiga,” ungkap pengguna akun Facebook Wido Sardjono.

Agamamu agamamu, agamaku agamaku,” tulis pengguna akun Facebook Akhyar Fatah.

“Orang yang ikut agama itu maka dia termasuk golongannya,” timpal pengguna akun Facebook Nino Nanos.

Demi mencegah kontroversi berkelanjutan, pengguna akun Facebook Metta Maryana kemudian mematikan kolom komentar. Ia tak ingin kisah unik yang menunjukkan kerukunan antar-umat beragama di Kota Salatiga itu justrua malah menjadi kontroversi, bukan menjadi pemicu semangat untuk menjaga toleransi.