Narkoba Semarang: Fakta Mahasiswa Undip yang Terciduk BNN

Mahasiswa FPIK Undip, CPI (duduk paling kanan) saat didatangkan di Kantor BNN Provinsi Jateng, Rabu (4/4/2018). (Solopos - Imam Yuda S.)
05 April 2018 20:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG –  Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Candrika Pratama atau CPI, 22, yang dtangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) karena kepemilikan narkoba jenis ekstasi, ternyata memiliki prestasi akademik yang cukup bagus.

Hal itu diungkapkan Direktur Kemahasiswaan Undip, Handoyo, saat menggelar jumpa pers di Gedung Widya Puraya, kampus Undip, Tembalang, Semarang, Kamis (5/4/2018).

Tokopedia

“CPI itu merupakan mahasiswa semester kedelapan FPIK. Meski baru semester kedelapan, dia sudah mampu mengerjakan skripsi. Untuk ukuran mahasiswa FPIK, itu terbilang cepat. Berarti, dia tergolong cukup berprestasi,” ujar Handoyo.

Kendati demikian, Handoyo kecewa dengan perbuatan CPI yang terlibat kasus penyalahgunaan narkoba. CPI ditangkap BNN Jateng saat berada di Jl. Tirta Usodo Timur, Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Senin (26/3/2018).

Saat ditangkap, CPI kedapatan membawa sembilan butir ekstasi yang dibeli dari Belanda secara online dengan menggunakan alat pembayaran virtual, Bitcoin.

Akibat perbuatan itu, CPI pun tak hanya terancam mendapat hukuman penjara. Ia juga terancam kehilangan haknya sebagai mahasiswa Undip Semarang.

“Kami [Undip] tidak mentoleransi mahasiswa yang mengonsumsi atau terlibat kasus narkoba. Kami akan kenai sanski akademik sesuai Peraturan Rektor No. 15/2017 tentang Peraturan Akademik Bidang Pendidikan Program Sarjana Undip,” ujar Kepala UPT Humas Undip, Nuswantoro Dwiwarno.

Nuswantoro menambahkan sanksi kepada CPI bisa diberikan mulai dari pemberhentian sementara atau skorsing hingga pemberhentian secara permanen atau drop out (DO)

“Terkait sanksi seperti apa? Kami akan tunggu hasil di pengadilan. Jika dia dinyatakan bersalah dan dihukum penjara lebih dari dua semester [satu tahun] bisa jadi dia akan kehilangan hak-haknya sebagai mahasiswa Undip,” tutur Nuswantoro.