Tol Semarang-Demak Perbaiki Lingkungan, Begini Teorinya…

Ilustrasi pembangunan jalan bebas hambatan alias jalan tol. (Antara/Harviyan Perdana Putra)
08 April 2018 16:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengklaim jalan tol Semarang-Demak yang bakal dibangun dalam waktu dekat bersifat multifungsi, karena bukan hanya menyelesaikan persoalan kemacetan namun juga memperbaiki lingkungan hidup. Apa alasannya?

"Bukan hanya jalan tol, tetapi juga environmental remediation [perbaikan lingkungan]," kata Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto seusai bertemu dengan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi untuk membahas rencana pembangunan jalur tol Semarang-Demak di Balai Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/4/2018).

Tokopedia

Menurut dia, jalur tol tersebut juga memiliki peran memperbaiki lingkungan, misalnya kawasan yang tadinya kumuh bisa dikembangkan secara baik karena disatukan dengan sistem pengendalian banjir. "Sekarang ini, Semarang kan kebanjiran terus. Kami kombinasikan. Jadi, bukan hanya memecahkan masalah kemacetan, tetapi masalah banjir, memperbaiki lingkungan, sekalian menciptakan suatu lahan baru," katanya.

Artinya, simpul dia, potensi ekonomi lainnya, seperti pariwisata pesisir bisa muncul seiring dengan pembangunan jalan tol Semarang-Demak sepanjang 27 km tersebut. Mengenai nelayan, ia mengatakan bisa juga tetap tidak kehilangan mata pencaharian karena akan dikembangkan teknologi di luar tanggul laut yang dibangun di sepanjang jalur tol Semarang-Demak.

"Bagian situ, tadinya kan ada tambak dan lain lain, ini kami lagi kembangkan teknologi. Tambak kan airnya asin, kami kembangkan di luar tanggul tersebut karena secara teknologi memungkinkan," katanya. Demikian pula, lanjut dia, kawasan mangrove yang juga bakal terkena pembangunan jalur tol Semarang-Demak yang nantinya akan dipindahkan dan dibikinkan penggantinya di luar jalur tol.

Sementara itu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menjelaskan pertemuan tersebut membicarakan persoalan teknis mengenai penyesuaian rencana tata ruang wilayah seiring pembangunan jalur tol Semarang-Demak. "Fase Tol Semarang-Demak ini menjadi jalur tol pertama yang sekaligus tanggul laut. Jadi, keren nih. Pertama kalinya ada di Semarang. Kami diminta melakukan beberapa perubahan peruntukan di situ," katanya.

Ia mencontohkan kawasan yang semula rawa tidak mungkin dikembangkan menjadi tambak lagi jika sudah dibendung tanggul laut, demikian pula permukiman nelayan yang juga harus ada perubahan. Intinya, kata dia, harus ada sisi ekonomi yang menarik di wilayah itu agar setelah jadi jalan tolnya bisa berkembang lebih cepat, misalnya, ada lahan yang tadinya tambak diminta sebagai kolam retensi atau polder.

"Ada juga nanti perubahan yang tadinya tambak, rawa, jadi perumahan, atau apapun itu. Yang jelas, kita akan melihat hasilnya. Tugas kami, melakukan penyesuaian tata ruang," kata politikus PDI Perjuangan itu.

Sumber : Antara