Angka Kematian Ibu dan Bayi Semarang Terus Tertekan

Ilustrasi ibu dan bayi. (Solopos/R. Wibisono)
08 April 2018 22:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Dinas Kesehatan Kota Semarang mengklaim maternal mortality rate alias angka kematian ibu dan angka kematian bayi di daerah ini terus menurun secara signifikan. "Dari tahun ke tahun, AKI dan AKB di Kota Semarang menurun signifikan," kata Kepala Dinkes Kota Semarang Widoyono di sela Lomba Balita Sehat di Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/4/2018).

Pada 2015, kata dia, AKI di Kota Semarang tercatat masih 35 kasus, kemudian pada 2016 menurun menjadi 32 kasus, dan pada 2017 kembali turun signifikan menjadi 23 kasus. Menurut dia, menurunnya angka AKI tersebut seiring sejalan dengan upaya yang dilakukan Dinkes Kota Semarang dengan menggandeng berbagai elemen masyarakat.

Tokopedia

"Kami menggandeng juga berbagai instansi, seperti rumah sakit, Pembinaan Kesejahteraan Keluarga [PKK], Forum Kota Sehat, hingga Ikatan Bidan Indonesia [IBI]," katanya.

Ia menjelaskan upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Semarang untuk menekan angka kematian ibu dan bayi itu antara lain melalui edukasi terhadap ibu hamil, menggelar kelas-kelas ibu hamil, hingga merekrut petugas kelurahan untuk mendampingi ibu hamil. Tak cukup dengan itu, sambung dia, kerja sama dengan IBI juga berperan memberikan pengawasan terhadap kinerja bidan, termasuk kerja sama yang dijalin Dinkes Kota Semarang dengan kalangan RS.

"Bidan itu kalau melakukan kesalahan pasti kena sanksi. Bisa disuruh sekolah lagi, magang, atau dicabut izinnya. Untuk RS juga begitu. Makanya, kami awasi betul-betul," katanya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengakui terus berkurangnya AKI dan AKB tidak lepas dari peran serta dinas, instansi, dan masyarakat. "Seperti melalui lomba balita sehat kali ini. Kami ingin memonitoring anak-anak, serta mengajak para ibu-ibu untuk menjaga pola hidup sehat," kata Ita—sapaan akrab Hevearita.

Ia menjelaskan anak sehat sebenarnya dasarnya dari keluarga, dan dimulai dari ibu yang sehat sehingga upaya menjaga pola hidup sehat akan terus didorong menjadi budaya di masyarakat. Bukan hanya pemerintah, kata dia, peran serta tim penggerak PKK, dharma wanita, dan tenaga kesehatan sangat besar dengan terjun langsung ke masyarakat dan melakukan monitoring.

"Semuanya saling bersinergi dan saling mengawasi. Seperti, pengawasan ibu-ibu PKK terhadap ibu yang hamil di usia terlalu muda, usia terlalu tua, hamil dengan jarak kurang dari dua tahun," katanya.

Sumber : Antara