Ditangkap karena Jadi Kurir Narkoba, Pengajar Ponpes di Solo Batal Umrah

Pengajar Ponpes di Solo menjadi tersangka penyalahgunaan narkoba, Agung Rukiyanto (duduk sebelah kiri) saat dihadirkan di Kantor BNN Provinsi Jateng, Senin (9/4 - 2018). (Solopos / Imam Yuda S.)
10 April 2018 07:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG - Keinginan Agung Rukiyanto, 47, untuk menjalankan ibadah umrah gagal. Agung batal ke Tanah Suci setelah ditangkap aparat Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) karena menjadi kurir narkoba jenis sabu-sabu.

Agung ditangkap aparat BNN Jateng di Jl. Pungkruk, Desa Jetak RT 004/RW 008, Sragen, Jumat (6/4/2018). Warga Kampung Tegalayu RT 001/RW 002, Kelurahan Bumiayu, Laweyan, Solo yang mengaku kerap memberikan tausiah di Ponpes Takmirul Islam, Solo itu ditangkap bersama rekannya, Sriyono, 53, warga Pringgading RT 004/RW 009, Kelurahan Stabelan, Banjarsari, Solo. Kedua warga Solo itu ditangkap saat membawa 10 gram sabu-sabu.

"Kami awalnya terima laporan ada yang bawa sabu-sabu. Setelah itu kita pantau gerak-geriknya, kami datangi, dan ditemukan sabu-sabu di dalam mobil tersangka," ujar Kepala BNN Provinsi Jateng, Brigjen Pol. Tri Agus Heru, saat jumpa pers di kantor BNN Jateng, Senin (9/4/2018).

Agus menambahkan dari pengakuan kedua tersangka baru saja mengambil pesanan sabu-sabu untuk diantarkan ke penadah di Solo. Keduanya juga mengaku baru kali pertama menjadi kurir.

Namun setelah dilakukan pemeriksaan kedua tersangka tak hanya menjadi kurir narkoba, tapi juga mengonsumsi sabu-sabu.

Dalam pemeriksaan aparat BNN, Agung menyatakan sempat berhenti lama mengonsumsi sabu-sabu pada 2002 silam. Namun, kebiasaan buruk itu kembali dilakukan setelah menggelar reuni dengan teman-teman lama.

"Sempat berhenti, tapi awal tahun ini, Januari lalu, tersangka mengonsumsi lagi," cerita Tri Agus.

Saat ditanya wartawan, Agung mengaku kembali memakai sabu-sabu setelah menggelar reuni. Saat ingin menggunakan lagi, Agung diberi nomor telepon seseorang bernama Bejo, yang diduga menjadi pemasok barang haram tersebut.

Bejo yang diketahui berdomisili di Kaliurang, Yogyakarta itu juga yang menyuruh Agung mengambil sabu-sabu ke Sragen. Untuk pekerjaan itu, Agung dibayar Rp1 juta.

“Waktu reunian saya pakai. Mau beli lagi malah dikasih kontaknya Bejo. Ditawari [Bejo] gratis, asal mau jadi kurir. Saya khilaf,” ujar Agung.

Agung menyesal kembali terjerat narkoba. Apalagi, seharusnya, awal pekan ini, berangkat ke Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah. “Istri saya tetap berangkat,” kata Agung.

Sementara itu, pihak BNN Provinsi Jateng saat ini tengah mencari keberadaan Bejo. Pihaknya juga mengimbau warga untuk memperketat pengawasan peredaran narkoba di lingkungan ponpes.