KPU Lambat Pasang APK Pilgub Jateng, Ini Kata Akademisi...

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) memprotes keterlambatan pemasangan APK Pilgub Jateng 2018 di depan kantor KPU Jateng, Selasa (10/4 - 2018). (Antara/Wisnu Adhi N.)
10 April 2018 21:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah yang lambat memasang alat peraga kampanye (APK) pemilihan umum kepala daerah (pilkada) serentak 2018 menarik perhatian kalangan terpelajar. Sikap KPU itu dinilai hanya menguntungkan pasangan calon peserta Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jateng yang telah dikenal publik.

Maka, mahasiswa pun mulai berdemonstrasi memprotes sikap KPU Jateng tersebut. Kalangan akademisi di kampus Kota Semarang pun angkat bicara menyoroti keterlabatan pemasangan sarana sosialisasi peserta pilkada atau tepatnya Pilgub Jateng 2018 tersebut, di antaranya Ketua Program Magister Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro Semarang Teguh Yuwono.

Sebagaimana dikutip Kantor Berita Antara, Teguh Yuwono mengatakan bahwa keberadaan APK berpengaruh besar pada tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum. "Makin langkanya alat peraga kampanye yang tersebar tidak masif, membuat rakyat makin tidak tahu dan makin apatis," kata Teguh menjawab pertanyaan Antara di Semarang, Selasa (10/4/2018).

Teguh Yuwono berpendapat bahwa kampanye yang sepi dan adem ayem kemungkinan besar berpengaruh pada pengetahuan masyarakat terhadap pemilu lokal yang pemungutan suaranya dijadwalkan 27 Juni 2018 mendatang itu. Masyarakat tentu saja tak mengenal figur yang harus mereka pilih dalam perhelatan demokrasi itu.

Pendapat senada disampaikan Ketua DPW PKS Jateng Abdul Fikri Faqih. Anggota DPR ini memperkirakan pesta demokrasi yang adem ayem bakal berpengaruh pada tingkat partisipasi masyarakat yang akan mendatangi tempat pemungutan suara (TPS).

Lebih lanjut Teguh yang juga alumnus Flinders University Australia menegaskan bahwa pengetahuan yang rendah itu berpengaruh pada animo atau minat politik. "Nah, minat politik yang rendah berpengaruh besar pada tingkat partisipasi dalam mencoblos," ujarnya.

Oleh karena itu, simpulnya, semua pihak mestinya peduli untuk membantu sosialisasi politik tentang Pilgub Jateng sebagai bagian dari rangkaian pilkada serentak 2018. Ia memperkirakan tingkat partisipasinya sekitar 60% hingga 70%, atau di bawah target nasional tingkat partisipasi pemilih sebesar 77,5%. "Partisipasi di bawah 70 persen itu kategori kurang bagus," kata Teguh.

Sumber : Antara