Pilkada 2018: Kontroversi Puisi Gus Mus, Simpatisan Ganjar Baca Puisi Bareng

Beberapa simpatisan calon gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, membacakan puisi di posko Ganjar-Yasin, Jl. Pandanaran, Semarang, Selasa (10/4 - 2018) malam. (Istimewa/Tim Pemenangan Ganjar/Yasin)
11 April 2018 15:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Puluhan simpatisan calon gubernur (cagub) petahana pilkada atau tepatnya Pilgub Jateng 2018, Ganjar Pranowo, mendatangi posko pemenangan Ganjar-Yasin di Jl. Pandanarang, Selasa (10/4/2018) malam. Kedatangan mereka tak lain untuk membaca puisi bersama.

Seluruh puisi yang dibacakan simpatisan Ganjar-Yasin itu merupakan karya ulama Kiai Musthofa Bisri. Mereka sengaja membacakan puisi karya ulama yang akrab disapa Gus Mus itu sebagai respons kontroversi atas puisi berjudul “Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana” yang dibacakan Ganjar saat acara talkshow di sebuah televisi swasta.

Puisi yang dibacakan Ganjar itu merupakan karya Gus Mus pada 1987. Namun saat dibacakan Ganjar, puisi itu menimbulkan kontroversi dan dianggap berbau SARA.

Salah satu mahasiswa yang ikut serta dalam aksi itu, Ahmad Fauzi, berpendapat puisi Gus Mus berisi kritikan terhadap pemerintahan dan permasalahan masyarakat.

"Kami tahu puisi ini sempat dipersoalkan di sosmed (social media). Permasalahan tersebut mungkin tidak pernah akan ada, bila si pelapor tabayun. Setelah tahu itu puisi eyang Gus Mus, tidak jadi lapor," kata mahasiswa semester 8 itu, seperti dilansir dari siaran pers tim pemenangan Ganjar-Yasin, Selasa.

Fauzi berharap warganet tidak mudah terprovokasi informasi hoax. Sebagai orang terpelajar, Fauzi bilang warganet semestinya membiasakan diri cek dan ricek. 

"Harus coverboth side. Jangan termakan hoax," ujar dia.

Di antara para simpatisan itu, hadir pula para tokoh kesenian Semarang seperti Agoes Dewa, Marco Marnadi, dan Mbah Wien Blues. Ada juga perwakilan Santri Gayeng, Seknas Jokowi Kota Semarang dan Jateng, Relawan Projo, Bara JP dan Dulur Ganjar. Tak ketinggalan Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi juga membacakan puisi yang persis dibawakan Ganjar.

"Kami ada di sini untuk menghormati Gus Mus, ini bentuk keprihatinan kami ketika karya ulama besar seperti beliau yang dibacakan Pak Ganjar kok dinilai menistakan agama, sekaligus kami mengampanyekan pilkada yang adem, damai, dan asyik seperti pembacaan puisi malam ini," kata Supriyadi yang juga politikus PDI Perjuangan itu.