Kampus di Salatiga: Ke KPI Pusat, Mahasiswa IAIN Salatiga Kritik Reality Show Tak Mendidik

Kampus IAIN Salatiga. (Youtube)
11 April 2018 16:50 WIB Ginanjar Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SALATIGA – Mahasiswa dari salah satu kampus di Kota Salatiga, Jawa Tengah (Jateng), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kota Salatiga, mengunjungi kantor Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat di Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Selasa (10/4/2018). Ada yang menarik pada kunjungan dalam rangka kuliah kerja lapangan (KKL) yang diikuti mahasiswa Fakultas Dakwah itu.

Dikabarkan di laman resmi milik KPI, beberapa perwakilan mahasiswa melontarkan kritik terhadap adanya tayangan reality-show di televisi yang dianggap memuat konten yang tak sopan dan tak ada nilai pendidikannya. "Ada tayangan program reality-show yang tayang di salah satu lembaga penyiaran yang menurut kami terlihat sekali rekayasanya. Isinya pun tidak etis dan tidak mendidik," ungkap Gesang, salah satu mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah IAIN Salatiga.

Selain mengkritik tayangan reality-show, mahasiswa dari salah satu kampus di Kota Salatiga tersebut juga mengkritik adanya beberapa kampanye partai politik yang sering tayang di beberapa stasiun televisi. Saking seringnya, lanjutnya, lagu dari salah satu partai politik sampai-sampai membuat anak-anak mampu menghafal liriknya. "Sangat disayangkan sekali jika yang dihafal anak-anak cuma hal itu. Harusnya ada hal lain yang bisa disuguhkan ke mereka tentunya yang memiliki nilai pendidikan,” katanya.

Menanggapi kritik dan keluhan tersebut, Komisioner KPI Pusat Agung Suprio menjelaskan tayangan yang tidak berkualitas justru memang memiliki lebih banyak penonton. "Mungkin bagi kita tayangan tersebut tidak berkualitas, tapi justru masyarakat yang menontonnya banyak," katanya.

Menurut Agung, ada sejumlah faktor yang menyebabkan tayangan-tayangan seperti itu muncul kembali di layar kaca, salah satunya soal kesadaran atau iktikad yang belum optimal. Selain itu, pergantian orang di kalangan rumah produksi menyebabkan pandangan mengenai aturan dan etika yang awalnya sudah selaras dengan KPI menjadi berubah.

"Namun kami menggunakan berbagai metode supaya kalangan industri bisa lebih baik, yakni melalui pembinaan rutin terhadap lembaga penyiaran, selain memberi sanksi. Kami juga ada bimbingan teknis atau sekolah P3SPS bagi semua kalangan termasuk mahasiswa yang ingin memperdalam pengetahuan soal aturan penyiaran," jelas Agung.

Dalam kesempatan itu, Agung menyatakan perlunya pengembangan kreatifitas dalam pembuatan konten siaran. Dia menilai tayangan yang berkualitas dan kreatif hasil produksi sumber daya dalam negeri masih kurang. "Negara harus ikut membantu mengalokasikan anggaran untuk membuat film atau tayangan yang berkualitas untuk mengimbangi tayangan tidak berkualitas tadi," harapnya.