Jalan Tol Semarang-Batang Dikebut demi Mudik Lebaran 2018, Begini Kiat Waskita Karya...

Sebuah mobil melintasi jalan tol Semarang-Batang di wilayah Ngaliyan, Kota Semarang, Jateng, Jumat (16/3 - 2016). (Antara/Aditya Pradana Putra)
13 April 2018 22:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Pengerjaan proyek jalan tol Semarang-Batang dikebut PT Waskita Karya (Persero) Tbk. sebagai pelaksana proyek demi bisa dilalui arus lalu lintas kendaraan yang meningkat pada musim mudik Lebaran 2018 mendatang.

"Upaya percepatan kami lakukan dengan menambah jumlah pekerja pada Seksi IV [Kendal] dan Seksi V [Semarang]," kata Kepala Seksi Keuangan dan SDM PT Waskita Karya Idi Heryadi mengungkap kiat perseroannya di Kota Semarang, Kamis (12/4/2018).

Jumlah pekerja di kedua seksi pembangunan jalan bebas hambatan tersebut yang sebelumnya hanya 600-an orang, kini ditambah menjadi 1.000-an orang demi mempercepat pengerjaan pembangunan. Penambahan, lanjut dia, juga dilakukan pada jumlah alat-alat, seperti crane ekskavator, dump truck, dan sebagainya termasuk penambahan jam kerja menjadi dua sif sampai malam hari.

"Kami lakukan percepatan untuk mengejar target sampai Lebaran mendatang. Namun, kalau melihat kondisi di lapangan, Lebaran nanti kemungkinan baru bisa fungsional dengan satu jalur," katanya.

Ia menyebutkan pembangunan jalan tol Semarang-Batang Seksi IV di wilayah Kendal memiliki panjang 13 km, sementara Seksi V di Kota Semarang memiliki panjang sekitar 10,4 km. "Pembangunan yang sudah dilakukan sekarang ini mencapai 74,32%. Harusnya sudah mencapai 90%. Ada kendala beberapa lahan yang belum dibebaskan, baik di Kendal maupun Semarang," katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Administrasi Kontrak PT Waskita Karya Ronald Adriano menyebutkan beberapa lahan yang belum dibebaskan, yakni makam di Klampisan, Masjid Al Mustaghfirin, dan satu lahan warga. "Itu baru yang di Seksi V atau Kota Semarang. Yang di Kendal masih ada 131 bidang lahan yang belum dibebaskan yang tersebar di Desa Magelung, Menjalin, Kertomulyo, Sumbersari, Nolokerto, dan Sumberrejo," katanya.

Namun, imbuh dia, sudah dalam proses konsinyasi di Pengadilan Negeri (PN) Kendal, sementara untuk makan di Klampisan, Ngaliyan, Semarang, tinggal menunggu proses relokasi karena sudah ada lahan pengganti dan tidak ada warga yang keberatan. "Namun, kami belum bisa melakukan relokasi makam karena lahan pengganti masih berupa dataran rendah. Kami harus melakukan pengurukan dulu, baru memindahkan satu-persatu makam ke lahan pengganti," katanya.

Dalam sehari, kata dia, rata-rata pekerja Waskita Karya bisa memindahkan 70 makam sehingga untuk memindah 1.100 titik makam ke tempat relokasi yang tidak begitu jauh sesuai keinginan warga ditaksir membutuhkan waktu sekitar satu bulan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara