Jelang Pilpres, Jokowi Naikan Upah Penyuluh Agama

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersalaman dengan seorang penyuluh agama saat menghadiri acara di Simpang Lima, Kota Semarang, Sabtu (14/4 - 2018). (Solopos/Imam Yuda S.)
14 April 2018 14:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Presiden Joko Widodo (Jokowi) berjanji menaikan upah penyuluh agama yang masih berstatus non-pegawai negeri sipil (PNS) atau honorer menjadi dua kali lipat dari yang diterima saat ini.

Janji itu disampaikan Jokowi saat menghadiri acara Silaturahmi Penyuluh Agama Provinisi Jawa Tengah bersama Presiden RI di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Kota Semarang, Sabtu (14/4/2018).

“Saya janji akan menaikan upah para penyuluh agama yang belum berstatus PNS. Saya akan naikkan dua kali lipat. Kemungkinan kalau tidak tahun ini ya tahun depan [2019],” ujar Jokowi.

Pernyataan Jokowi itu pun disambut tepuk tangan sekitar 5.700 penyuluh agama yang hadir dalam acara tersebut. Banyak di antara mereka yang terlihat tidak sabar menunggu kenaikan gaji hingga tahun depan, yang bertepatan dengan penyelenggaraan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

“Saya kan harus minta persetujuan DPR dulu. Lagian saya kan tahunya [gaji tenaga honorer penyuluh agama] baru saja, dikasih tahu pak menteri [Agama, Lukman Hakim Saifuddin]. Coba kalau tahun lalu tahunya, mungkin bisa tahun ini naiknya,” sambung Jokowi.

Jokowi menilai kenaikan upah bagi penyuluh agama nonPNS dirasa penting. Hal itu dikarenakan dari total jumah penyuluh agama yang mencapai 81.000 orang lebih, 55% di antaranya atau sekitar 45.000 orang merupakan tenaga honorer, dengan gaji di bawah rata-rata.

Selain itu, pemerintah menilai peran penyuluh agama selama ini sangat penting dalam menjaga kerukunan umat beragama. Terlebih, Indonesia memiliki masyarakat yang majemuk dengan 714 suku yang memiliki sekitar 1.100 bahasa dan tersebar di sekitar 17.000 pulau.

Dari masyarakat yang majemuk itu, hampir 85% di antaranya menganggap isu agama sangat penting. Namun, di saat yang sama potret konflik sosial dengan akar permasalahan agama kerap terjadi.

“Itu yang harus jadi perhatian kita. Konflik-konflik yang berakar permasalahan agama harus diantisipasi. Itu sudah menjadi tugas bapak-ibu [penyuluh agama],” ujar presiden dalam sambutannya.

Sementara itu, menanggapi janji Jokowi itu salah satu peserta yang hadir tidak terlihat antusias. “Biasa saja mas. Toh, selama ini gajinya sudah kecil ya tetap bekerja. Kalau dinaikan dua kali lipat juga masih kurang memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar penyuluh agama asal Batang yang enggan disebutkan namanya itu, saat berbincang dengan Semarangpos.com.

Ia mengaku puluhan tahun menjadi penyuluh agama di daerahnya. Namun, baru tiga tahun terakhir mendapat upah karena statusnya berubah menjadi tenaga honorer.

“Kalau dulu masih berstatus sukarela, enggak dapat gaji. Sekarang jadi honorer dapat gaji Rp300.000 per bulan,” terangnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya