Realisasi KUR Jateng Terdongkrak Turunnya Bunga

Ilustrasi kredit usaha rakyat (KUR). (Bisnis/Dok.)
17 April 2018 16:50 WIB Yustinus Andri DP Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Realisasi penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) kredit di Jawa Tengah diklaim terdongkrak seiring adanya kebijakan pemerintah menurunkan suku bunga kredit jenis itu.

Kepala OJK Regional III Jateng-DIY Bambang Kiswono sebagaimana dikutip Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Senin (16/4/2018), mengatakan kebijakan pemerintah pusat yang memangkas bunga KUR dari 9% menjadi 7% mulai Januari 2018 memberikan daya tarik bagi para debitur untuk mengajukan kredit baru. Alhasil, katanya, lonjakan realisasi penyaluran KUR tersebut.

“Dampak dari kebijakan pemerintah pusat mulai terlihat, di samping adanya dorongan lain dari kegiatan perekonomian domestik yang mulai menggeliat,” ujarnya, akhir pekan lalu.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Perekonomian, realisasi penyaluran KUR Jateng per Februari 2018 mencapai Rp3,597 triliun atau naik dari Rp1,597 triliun di periode yang sama pada 2017. Realisasi penyaluran KUR pada periode tersebut mampu menyumbang porsi sebesar 18,46% secara nasional, atau naik dari 15,41% pada Februari tahun lalu.

Pencapaian realisasi penyaluran KUR Jateng pada Februari 2018 tersebut juga lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai Rp1,556 triliun. Provinsi Jateng dalam hal ini tercatat berhasil mempertahankan posisinya sebagai penyalur KUR tertinggi secara nasional.

Di sisi lain, menurut Bambang, pertumbuhan KUR di Jateng juga sejalan dengan pertumbuhan kredit umum perbankan provinsi tersebut. Tercatat pada akhir Februari 2018, kredit umum perbankan di Jateng meningkat 9,99% secara year on year (yoy). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit umum pada akhir Desember 2017 yang menembus 9,21%.

Pernyataan senada disampaikan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah Ema Rachmawati yang menyebutkan tingginya realisasi penyaluran KUR di Jateng salah satunya disebabkan penurunan suku bunga pinjaman. Berdasarkan data yang dimilikinya, dari Januari hingga 4 Maret 2018 permintaan kredit paling tinggi berasal dari KUR mikro yang mencapai 58.302 debitur. Sementara itu, pada periode yang sama, dari sisi KUR ritel mencapai 7.965 debitur.

“Penurunan suku bunga KUR memang cukup signifikan bagi penyaluran kredit di Jateng. Secara jumlah debitur, penyaluran terbesarnya masih ke sektor pedagang besar dan eceran,” ujarnya, Minggu (15/4/2018). Untuk pedagang besar dan eceran, jumlah debitur per 4 Maret 2018 mencapai 49.111 nasabah. Jumlah tersebut menguasai 67,28% dari seluruh permintaan sepanjang 2018. Adapun, di peringkat kedua terdapat sektor pertanian, perburuan dan kehutanan yang memiliki persentase sebesar 11,9%.

Di sisi lain, lanjut Ema, potensi penyaluran kredit yang relatif besar di Jateng berasal dari kredit ultra mikro (UMI). Pada periode yang sama, kredit UMI yang telah disalurkan mencapai Rp26 miliar dengan total debitur mencapai 5.320 nasabah. Catatan tersebut, menurutnya, berpeluang bertambah besar apabila Kementerian Keuangan merealisasikan kebijakannya untuk menurunkan suku bunga UMI dari 9% menjadi 7%, atau sama seperti tingkat bunga KUR saat ini.

Kredit UMI merupakan fasilitas pinjaman dengan pinjaman maksimal Rp10 juta yang ditujukan untuk koperasi dan UKM. Pemerintah telah menaikkan anggaran kredit UMI di APBN 2018 menjadi Rp2,5 triliun dari sebelumnya Rp1,5 triliun pada 2017.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya