Rumah Tak Layak Huni Kota Semarang Baru Tuntas Diberantas 2020

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi didampingi Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi (kanan) saat peresmian perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH) di Tambakrejo, Kota Semarang, Jateng. (Antara/Humas Setda Kota Semarang)
28 April 2018 21:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengakui masih ada 10.941 rumah tak layak huni di wilayah yang dipimpinnya. Jika rencananya berjalan lancar, maka rumah-rumah tidak layak huni itu baru tuntas diberantas dari Kota Semarang pada tahun 2020, atau dua tahun lagi.

"Hingga 2017, terhitung telah ada 2.860 rumah tidak layak huni di Semarang yang sudah direhab menjadi lebih baik, tetapi masih ada 10.941 rumah tidak layak huni," katanya di Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (27/4/2018).

Politikus PDI Perjuangan yang akrab disapa Hendi itu mengaku prihatin dengan masih tingginya angka rumah tidak layak huni di ibu kota Jateng tersebut. "Maka dari itu, komitmen saya dari tahun ke tahun jumlah rumah tidak layak huni yang direhabilitasi harus terus ditambah. Pada 2020, kami target sudah tidak ada lagi rumah tidak layak huni," tegasnya.

Hendi menargetkan setidaknya 4.295 rumah tidak layak huni di Kota Semarang akan direhabilitasi selama dua tahun, yakni 2018 dan 2019. Jika percepatan tersebut berjalan lancar maka tak ada lagi rumah tidak layak huni di Semarang yang dianggap sebagian kalangan sebagai kota metropolitan itu sesudah tahun 2020.

Ia menyebutkan pada 2011 tercatat hanya 204 rumah tidak layak huni yang direhabilitasi dalam setahun, kemudian bertambah menjadi 1.162 rumah tidak layak huni yang direhabilitasi pada 2017. "Rehabilitasi rumah ini penting untuk mendorong terciptanya lingkungan tempat tinggal warga yang sehat. Walaupun angka harapan hidup Kota Semarang sudah tertinggi, masih banyak pekerjaan rumah (PR)," katanya.

Angka harapan hidup di Kota Semarang, kata dia, sebesar 77,21 tahun berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang tertinggi dibandingkan daerah-daerah lain, seperti Yogyakarta, Denpasar, dan Bandung. Mengenai program rehabilitasi rumah tidak layak huni, kata dia, menjadi bagian dari program besar penanganan wilayah kumuh di Kota Semarang, selain program kampung tematik, peningkatan infrastruktur, dan program "kaki kering".

Untuk program kaki kering, kata dia, sekarang ini masih fokus melakukan penanganan banjir, khususnya di wilayah timur Semarang, seperti Kemijen yang berdekatan dengan Sungai Banger. "Kemijen ini kan bantarannya Sungai Banger. Ketika Sungai Banger sudah ditutup, ternyata warga masih menyampaikan beberapa kali terdampak banjir. Ini akan terus dievaluasi," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara