Perjuangan Pedagang Pasar Kobong Didukung Legislator

Para pedagang di Pasar Rejomulyo yang lebih kondang disebut Pasar Kobong Semarang menggelar unjuk rasa menolak pemutusan aliran listrik di pasar tersebut, Kamis (3/5 - 2018). (Antara/Zuhdiar Laeis)
07 Mei 2018 07:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Para pedagang ikan segar di Pasar Rejomulyo alias Pasar Kobong Kota Semarang yang menolak direlokasi sebelum dilakukan perbaikan atas desain pasar baru hingga sesuai kebutuhan transaksi ikan segar rupanya tidak berjuang sendiri. Perjuangan mereka menarik perhatian legislator di DPRD Jawa Tengah.

Anggota Komisi E DPRD Jateng Yudi Indras Wiendarto, Minggu (6/5/2018), menyoroti rencana relokasi pedagang Pasar Rejomulyo oleh Pemerintah Kota Semarang itu. Ia mengaku khawatir langkah Pemkot Semarang itu justru menambah jumlah pengangguran dan warga miskin di daerah setempat.

Tokopedia

"Jika relokasi pedagang itu benar dilakukan dan kondisi Pasar Rejomulyo baru masih belum sesuai, maka omzet pedagang akan menurun dan saya khawatir kalau dipaksakan relokasi bisa memicu pengangguran dan kemiskinan baru," tutur Yudi Indras Wiendarto.

Yudi mengungkapkan penyebab menurunnya omzet pedagang terkait dengan relokasi Pasar Rejomulyo itu, antara lain ketiadaan lahan parkir untuk proses bongkar muat ikan. Padahal, paparnya, dalam satu malam di pasar yang dikenal dengan sebutan Pasar Kobong itu, setidaknya ada 250 transaksi yang membutuhkan proses cepat.

Selain itu, sambung dia, lokasi pedagang ikan asin di Pasar Rejomulyo yang baru ditempatkan di lantai II, padahal pengiriman ikan asin menggunakan kontainer karena besarnya kapasitas komoditas perdagangan tersebut. "Jika ditempatkan di lantai II, maka jelas membutuhkan tambahan biaya produksi untuk tenaga dan waktu," ujarnya.

Politikus Partai Gerindra itu juga menyesalkan pembangunan Pasar Rejomulyo baru yang tidak meminta masukan dari pedagang ikan, mulai dari perencanaan hingga pembangunan fisik. "Di lokasi baru, pedagang ikan dan ikan asin dijadikan satu lokasi, ini salah karena keduanya membutuhkan air yang berbeda. Saluran air kamar mandi juga dijadikan satu dengan saluran pembuangan ikan yang ada lendir dan sisiknya, bisa-bisa saluran air jadi tersumbat," paparnya panjang lebar.

Terkait kenyataan itu, Yudi meminta Pemkot Semarang berhati-hati dalam melakukan relokasi pedagang, apalagi jika memang kondisi Pasar Rejomulyo baru belum sesuai dengan harapan para pedagang. "Relokasi semestinya jangan dipaksakan, akan lebih baik jika pemerintah duduk bersama dengan pedagang dan mau menerima masukan. Toh, selama ini pedagang inilah yang turut menggerakan perekonomian di Kota Semarang," ujarnya.

Ketua Paguyuban Pedagang Ikan Basah dan Pindang (PIPB) Pasar Rejomulyo, Pranowo, sebagaimana dikutip Kantor Berita Antara, menyebutkan penurunan omzet saat ini disebabkan menurunnya transaksi pedagang dari luar kota. "Mereka ada yang tak datang ke pasar karena takut tidak ada stok barang dan merugi di ongkos perjalanan, mereka dengar kalau stok barang turun. Makanya ada yang tak datang. Sementara pasokan juga tak seperti biasanya," paparnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara