BPS Jateng: Banyak Perempuan Nganggur, Pilih Jadi Ibu Rumah Tangga

Ilustrasi pengangguran. (dok. Solopos)
08 Mei 2018 06:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah (Jateng) menyebutkan jumlah pengangguran di Jateng semakin bertambah dalam satu tahun terakhir. Total dari 770.000 orang pengangguran di Jateng, mayoritas merupakan kalangan perempuan.

Kepala BPS Jateng, Margo Yuwono, menyebutkan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan di Jateng mengalami penurunan sekitar 2,87%. Jika pada Februari 2017 jumlah TPAK perempuan mencapai 59,99%, maka pada Februari 2018 jumlahnya menjadi 57,12% atau turun sekitar 2,87%.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan TPAK laki-laki yang justru mengalami peningkatan sekitar 1,27 % dibanding tahun lalu. Jika pada Februari 2017 TPAK laki-laki di Jateng hanya mencapai 80,81%, maka pada Februari 2018 berada di kisaran 82,53%.

“Banyak perempuan di Jateng yang memutuskan untuk keluar dari kerjaan. Alasannya karena ingin mengurus atau menjadi ibu rumah tangga. Ini yang membuat tingkat partisipasi perempuan dalam angkatan kerja di Jateng turun,” ujar Margo saat sesi jumpa pers di kantor BPS Jateng, Kota Semarang, Senin (7/5/2018).

Margo menyebutkan jumlah pengangguran di Jateng mengalami peningkatan sekitar 16.000 orang selama satu tahun terakhir. Jika pada Februari 2017 jumlah pengangguran di Jateng tercatat sekitar 754.000 orang, maka pada Februari 2018 angka pengangguran meningkat menjadi 770.000.

Kendati pengangguran meningkat, jumlah angkatan kerja selama satu tahun terakhir juga mengalami pertumbuhan. Data BPS Jateng  menyebutkan angkatan kerja di Jateng hingga 2018 mencapai 18,23 juta orang atau naik sekitar 224.000 orang dibanding Agustus 2017 dan naik sekitar 35.000 dibanding Februari 2017.

Angkatan kerja mencerminkan jumlah penduduk yang secara aktual siap memberikan kontribusi terhadap produksi barang dan jasa di suatu wilayah,” ujar Margo.

Sementara itu berdasarkan tingkat pendidikan, jumlah pengangguran di Jateng rata-rata berasal dari lulusan diploma (D3) dan sekolah menengah kejuruan (SMK). Sementara, jumlah angkatan kerja kebanyakan berasal dari lulusan SD maupun sarjana atau S1.

“Kalau dilihat dari pendidikan memang banyak lulusan SD yang justru menjadi angkatan kerja. Mereka kebanyakan tidak pilih-pilih untuk mendapatkan pekerjaan. Sementara, lulusan D3 atau SMK seringkali pilih-pilih dengan pekerjaan yang tidak sesuai bidang,” beber Margo.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya