Tolak Kartu Tani, Pendemo Serbu Kantor Gubernur Jateng

Demonstran menolak Kartu Tani dengan berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur Jateng, Jl. Pahlawan, Kota Semarang, Selasa (8/5 - 2018). (Istimewa/Ampera Jateng)
08 Mei 2018 23:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Puluhan petani dari berbagai daerah yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Tani Peduli Perubahan (Ampera) menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Jl. Pahlawan, Kota Semarang, Selasa (8/5/2018). Demonstrasi itu digelar sebagai bentuk penolakan terhadap program Kartu Tani yang digagas Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng saat masa pemerintahan Gubernur Ganjar Pranowo.

Dalam siaran pers yang diterima Semarangpos.com, aksi penolakan itu ditunjukkan para petani dengan berjalan kaki dari Patung Kuda Jl. Pahlawan menuju kantor Gubernur Jateng. Sambil berjalan kaki, puluhan petani itu meneriakan penolakan Kartu Tani yang dianggap menyusahkan.

“Kartu Tani yang dikeluarkan oleh pemerintah jawa tengah di bawah kepemimpinan Ganjar Pranowo kala itu tidak mendukung petani dalam produksi. Kartu Tani justru menambah persoalan bagi petani,” ujar koordinator aksi, Y.M. Hanafi, dalam siaran pers yang diterima Semarangpos.com, Selasa.

Hanafi menambahkan Kartu Tani membuat petani kesulitan mendapatkan pupuk yang menjadi kebutuhan pokok dalam produksi pertanian. Para petani harus dihadapkan dengan berbagai persoalan adminstrasi, seperti memiliki rekening tabungan di bank, untuk mendapat pupuk.

“Belum lagi syarat lainnya untuk mendapat Kartu Tani, seperti petani harus menunjukkan sertifikat tanah dan surat pajak sebagai acuan RDKK [Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok]. Nah, bagaimana nasib petani yang menggarap lahan Perhutani atau menyewa? Pupuk, bibit dan pascapanen merupakan instrumen penting dalam produksi. Maka hendaknya petani dipermudah dalam mendapatkannya,” ujar Hanafi.

Atas berbagai persoalan itu, Ampera Jateng pun meminta pemerintah mencabut Kartu Tani. Mereka menilai jika Kartu Tani masih dipertahankan akan membuat status Jateng sebagai salah satu lumbung padi tergusur. Padahal selama ini Jateng merupakan salah satu penyumbang terbesar dalam produksi padi dengan produksi mencapai 11,42 juta ton atau sekitar 14% dari total produksi nasional.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya