Pertumbuhan Industri Kecil dan Besar Jateng Senjang Lebar

Ilustrasi kegiatan industri manufaktur. (Reuters)
11 Mei 2018 05:50 WIB Yustinus Andri DP Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Pertumbuhan produksi antargolongan industri manufaktur di Jawa Tengah terpisah jurang kesenjangan cukup lebar. Kesenjangan tersebut terjadi antara golongan industri manufaktur besar dan sedang (IMBS) dengan mikro dan kecil (IMK).

Kenyataan tersebut terungkap dalam laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng. Disebutkan dalam lapiran tersebut pertumbuhan produksi IMBS Jateng pada kuartal I/2018 mencapai 6,04% secara year on year (yoy). Sedangkan pada periode yang sama, produksi IMK tumbuh 2,02% (yoy), kendati pencapaian tersebut lebih tinggi daripada 2017.

“Masih ada gap yang besar. Idealnya pertumbuhan industri kecil dan mikro ini bisa sejalan atau terkerek oleh industri menengah dan besar, karena jumlah IMK yang besar di Jateng,” ujar Kepala BPS Jateng, Margo Yuwono, Selasa (8/5/2018).

Selain itu, lanjut Margo, berdasarkan hipotesisnya, kondisi itu terjadi karena keterkaitan rantai pasokan dan permintaan antara IMBS dengan IMK di Jateng sangat kecil. Alhasil, simbiosis mutualisme antarskala industri di Jateng tidak tercipta dengan baik.

Selain itu, dia juga melihat bahwa di Jateng cukup banyak pelaku IMK justru kesulitan mengikuti irama pertumbuhan bisnis dari IMBS. Pangsa pasar di sektor tertentu, masih dikuasai oleh para pelaku IMBS.

Hal itu setidaknya terlihat dari pertumbuhan IMK di sektor industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya yang naik 5,07% pada kuartal I/2018.

Sementara itu, IMBS di sektor serupa pada periode yang sama berhasil tumbuh 12,63%. Pencapaian sektor tersebut bahkan menjadi yang tertinggi di golongan IMBS.

Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi mengakui bahwa sangat sedikit perusahaan IMBS di Jateng yang menciptakan hubungan industri berjaring dengan IMK, terutama dalam hal penyediaan bahan baku.

Pasalnya, mayoritas bahan baku IMBS didapatkan melalui aktivitas impor. Sementara itu, dalam hal pemasaran, baik IMK maupun IMBS di Jateng sama-sama berbasis ekspor. Alhasil, keterkaitan hubungan bisnis antara kedua golongan tersebut relatif kecil.

“Tetapi, yang patut dicatat, IMK secara konsisten masih terus tumbuh, meskipun belum semasif IMBS. Ini membuktikan bahwa sebenarnya persoalan besarnya gap produksi antargolongan industri ini tak terlalu menjadi masalah,” ujarnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis