Menengok Koleksi Lokomotif Antik di Museum Kereta Api Ambarawa

Salah satu pengunjung tengah menyaksikan lokomotif tua koleksi Museum Kereta Api Ambarawa, Rabu (9/5/2018). (Solopos - Imam Yuda S.)
17 Mei 2018 14:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Saat masa kolonial kereta api menjadi alat transportasi utama di Indonesia. Tak hanya untuk mengangkut penumpang, kereta api juga digunakan sebagai alat pengangkut bahan-bahan logistik.

Nah, di Jawa Tengah (Jateng), tepatnya di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, ada satu museum yang menyimpan koleksi lokomotif yang beroperasi saat masa penjajahan. Bahkan di antara museum kereta api yang ada di Indonesia, koleksi lokomotif di museum ini yang paling lengkap. Museum itu tak lain adalah Museum Kereta Api Ambarawa.

Tokopedia

Semarangpos.com berkesempatan mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa bersama rombongan Djarum Trees for Life (DTFL) yang melakukan penanaman pohon gayam atau trembesi di Danau Rawa Pening, Rabu (9/5/2018).

Deretan lokomotif tua dan bangunan kuno yang masih dipertahankan sejak didirikan pada 1873 silam membuat nuansa kolonial benar-benar terasa saat mengelilingi museum tersebut.

Kepala Museum Kereta Api Ambarawa, Joko Utomo, menyebutkan ada 26 lokomotif yang menjadi koleksi museum yang dulunya merupakan stasiun kereta api itu. Dari 26 lokomotif itu, lima di antaranya bahkan masih bisa dioperasikan hingga saat ini.

“Untuk yang diaktifkan ada lima, tiga di antaranya menggunakan mesin uap, sedangkan dua lainnya dengan diesel. Semuanya dioperasikan sebagai kereta wisata, reguler dan sewa,” ujar Joko kepada Semarangpos.com.

Joko mengatakan koleksi milik Museum Kereta Api Ambarawa kebanyakan merupakan lokomotif tua, yakni buatan 1890-1980 an. Salah satunya adalah lokomotif seri B 2502 dan B 2503 buatan pabrik Maschinenfabrik Esslingen, Jerman, 1890 silam.

Kedua lokomotif itu bahkan hingga kini masih bisa dioperasikan sebagai kereta wisata. Namun, tidak sembarangan orang bisa menaiki kereta api itu. Untuk menaiki kereta api antik itu, pengunjung harus menyewa dengan harga Rp15 juta untuk kapasitas 80 penumpang atau dua gerbong.

“Untuk kereta api uap, kami akan berikan rute Ambarawa-Stasiun Bedono. Maksimal penumpangnya harus 80 orang karena rutenya menanjak dan melewati rel bergerigi,” terang Joko.

Mesin diesel

Namun, jika tak mampu menyewa kereta api uap yang ditarik lokomotif buatan Jerman itu, pengunjung tak perlu kecewa. Pengunjung masih bisa merasakan sensasi menaiki kereta api kuno dengan kereta api wisata yang ditarik dengan lokomotif bermesin diesel.

Untuk naik kereta api bermesin diesel itu, pengunjung hanya ditarik biaya Rp50.000 per orang. Kereta api wisata bermesin diesel itu juga beroperasi secara rutin pada hari libur maupun akhir pekan.

Joko mengaku beroperasinya kereta api wisata yang ditarik lokomotif kuno itu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Museum Kereta Api Ambawara. Tentu saja, daya tarik lainnya terletak pada koleksi lokomotif antik.

Keberadaan lokomotif antik itu pun kerap dimanfaatkan pengunjung sebagai background saat berswafoto. Bahkan, banyak pengunjung yang kerap menggunakan lokomotif tua tersebut untuk membuat foto prewedding.

“Keretanya unik dan antik. Bagus untuk selfi. Lokasi museumnya juga bagus, kuno masih seperti masa penjajahan Belanda. Jadi kayak di lokasi syuting film perjuangan,” ujar salah satu pengunjung asal Kota Semarang, Taufiq, saat berbincang dengan Semarangpos.com. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya