Misteri Makam Kuno dan Asal Usul Kampung Genuk

Diah, istri Teguh Pujianto, petugas kebersihan di makam Mbah Mintoloyo dan Sendang Panguripan, berdiri di depan makam Mbah Mintoloyo di kawasan TBRS Semarang, Jumat (1/6 - 2018). (Solopos/Imam Yuda S.)
08 Juni 2018 18:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Angin sepoi-sepoi berhembus di kawasan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Jumat (1/6/2018). Sekelompok pemuda tampak asik bercanda gurau di taman yang berada di lahan seluas 4,49 hektare itu.

Di sisi sebelah selatan kawasan itu terdapat sebuah makam kuno. Makam itu berada di bawah pohon dan bersebelahan dengan mata air yang kerap disebut sebagai Sendang Panguripan.

Makam itu konon merupakan tempat peristirahatan Mbah Mintoloyo. Seorang tokoh yang berjasa membuka kawasan Genuk, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, sebagai daerah permukiman.

 “Cerita yang saya dengar secara turun temurun. Mbah Mintoloyo ini merupakan sesepuh warga Genuk. Ia yang berjasa melakukan babat alas di kawasan Genuk dan menjaga sendang,” ujar Diah, warga yang tinggal bersebelahan dengan makam Mbah Mintoloyo dan Sendang Panguripan saat berbincang dengan Semarangpos.com, Jumat.

Sendang Mintoloyo yang berada di kawasan TBRS Semarang kini telah tertutup cor. (Solopos/Imam Yuda S.)

Diah menuturkan Mbah Mintoloyo tidak sendirian dalam membuka kawasan Genuk menjadi daerah permukiman. Bahkan, konon ia hanya bertugas membantu tokoh sentral bernama Mbah Genuk, bersama dua tokoh lainnya, yakni Mbah Balal dan Mbah Kliwon.

Makam Mbah Genuk dan Mbah Balal berada di kawasan Wonderia. Sementara, Mbah Balal berada di kawasan TBRS, tepatnya di belakang Gedung Wanita.

Semenjak kawasan Wonderia ditutup, beberapa tahun lalu, akses ke makam Mbah Genuk dan Mbah Balal menjadi terbatas. Makam itu berada di kawasan Wonderia yang sehari-hari tertutup pagar dan dikelilingi tembok yang tinggi.

 

Seorang warga Genuk Krajan, Widi, 88, menyebutkan makam Mbah Genuk berada di tengah kawasan Wonderia. Kawasan itu dulunya pernah difungsikan sebagai kebun binatang. Namun, kebun binatang itu kemudian dipindah ke Mangkang pada 1987.

“Sekarang makamnya Mbah Genuk juga enggak ada juru kuncinya. Dulu masih kerap dikunjungi warga sekitar, tapi sekarang jarang. Hanya beberapa warga saja yang masih sering berziarah, terutama kalau sedang mencari berkah,” ujar Widi.

Widi menambahkan makam Mbah Genuk biasanya kerap didatangi para seniman yang akan menggelar pertunjukan di TBRS Semarang. Para seniman itu biasanya setelah mengunjungi makam Mbah Genuk, berziarah ke makam Mbah Mintoloyo dan mandi di Sendang Panguripan yang saat ini sudah tertutup cor.

Widi mengaku tidak tahu secara pasti sosok Mbah Genuk. Namun, ia menyakini bahwa Mbah Genuk merupakan sosok perempuan yang berjasa membuka lahan di kawasan tersebut.

Inspirasinya membuat kawasan di sekitar itu pun diabadikan sesuai namanya. Setidaknya ada tiga kampung di sekitar kawasan itu yang diberi nama Genuk, yakni Genuk Krajan, Genung Karanglo, dan Genuk Perbalan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya