Unnes Kambing Hitamkan Orang Luar Kampus

Mahasiswa Unnes unjuk rasa memprotes pemberlakuan uang pangkal bagi mahasiswa baru dari jalur mandiri, Senin (4/6 - 2018). (Antara/Zuhdiar Laeis)
08 Juni 2018 15:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Otoritas kampusUniversitas Negeri Semarang (Unnes) mencoba mengambinghitamkan orang dari luar kampus sebagai pemicu kericuhan dalam demonstrasi mahasiswa di kampus Sekaran, Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (7/6/2018).

Kantor Berita Antara yang menyebut kericuhan itu sebagai tindakan tidak simpatik dalam aksi unjuk rasa mahasiswa itu mengutip bantahan rektor bahwa mahasiswanyalah yang ricuh. "Kami menengarai ada oknum dari luar, ya, istilahnya menjadi provokator. Kalau dari mahasiswa tidak seperti itu," tukas Rektor Unnes Prof. Fathur Rokhman di Kota Semarang, Kamis malam.

Tokopedia

Hal tersebut diungkapkannya terkait dengan insiden ricuh dalam unjuk rasa mahasiswa Unnes menolak uang pangkal di depan Rektorat Unnes, Kamis sore. Video demo ricuh di kampus Sekaran, Gunungpati, Kota Semarang, Jateng itu sempat viral di media sosial.

Fathur mengatakan dugaan kehadiran orang dari luar kampus terlihat dari beberapa rekaman video yang kemudian diamati ternyata ada beberapa oknum yang mencolok dalam unjuk rasa. Selain tidak memakai jas almamater, guru besar Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes itu mengatakan perangai orang-orang tersebut mencolok karena sangat berbeda dengan mahasiswa biasanya.

"Ada video-videonya dan sudah kami serahkan kepada pihak yang berwajib, yakni Polrestabes Semarang untuk ditangani lebih lanjut. Soal itu sudah diurusi oleh pihak keamanan Unnes," katanya.

Yang jelas, kata dia, Unnes menghargai sikap sejumlah mahasiswa yang tidak sepakat dengan kebijakan yang diterapkan, tetapi harus disampaikan dengan cara santun, saling menghormati, dan tidak memaksa. Ia mencontohkan insiden di depan Rektorat Unnes, Kamis sore, ketika dirinya akan pulang dengan kendaraan dinasnya, kemudian diadang oleh peserta aksi, sampai menggedor-gedor mobil untuk memaksanya turun.

Fathur menolak turun karena menilai cara yang dilakukan mahasiswa tidak akademis, bahkan cenderung memaksakan kehendak sehingga mobil yang ditumpanginya tetap melaju dengan pelan. Terkait aksi tidak simpatik peserta aksi itu, ia sangat menyayangkan karena sebelumnya telah menerima perwakilan mahasiswa dan pimpinan BEM fakultas dan universitas dengan baik.

Sejumlah perwakilan mahasiswa dari lembaga kemahasiswaan diterima rektor pukul 10.15 WIB, kemudian dialog dilanjutkan setelah salat Zuhur dengan memberikan keleluasaan mereka untuk menyampaikan aspirasi. "Kami sangat tidak menoleransi tindakan anarkistis dan radikal. Ya, itu karena adanya oknum dari luar. Kalau mahasiswa tidak seperti itu, mereka terpengaruh pihak luar sehingga ikut-ikutan," katanya.

Mengenai uang pangkal, Fathur menjelaskan sudah sesuai dengan Peraturan Menristek Dikti No. 39/2017 yang menyebutkan semua perguruan tinggi negeri dapat memungut uang pangkal dari mahasiswa jalur mandiri. Bukan hanya itu, Peraturan Menteri Keuangan No. 204/PMK/05/2016 tentang Tarif Layanan Badan Layanan Umum Unnes juga mengaturnya sehingga uang pangkal sudah sesuai kedua aturan tersebut.

"Pemerintah memberi keleluasaan PTN untuk memungut uang pangkal agar masyarakat yang mampu bisa berkontribusi dari segi pendanaan. Mekanisme itu memungkinkan terjadinya subsidi silang," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara