Debat Pilgub Jateng: Paparan Kedua Paslon Puaskan Panelis

Kedua paslon Pilgub Jateng 2018 saat menjalani debat di Hotel Patra, Semarang, Kamis (21/6/2018) malam. (Solopos - Imam Yuda S.)
21 Juni 2018 23:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Gagasan atau ide yang dipaparkan kedua pasangan calon (paslon) pilkada atau tepatnya Pilgub Jateng 2018 dalam debat pamungkas Pilgub Jateng di Hotel Patra, Kota Semarang, Kamis (21/6/2018) malam, tampaknya cukup memuaskan para panelis.

Dalam debat yang disiarkan secara langsung Kompas TV itu, ada lima panelis yang diminta merumuskan permasalahan untuk dijawab oleh kedua paslon pada pilkada atau tepatnya Pilgub Jateng 2018, yakni Ganjar Pranowo-Taj Yasin maupun Sudirman Said-Ida Fauziyah.

Kelima panelis itu, yakni Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Nur Hidayat Sarbini, praktisi hukum, Umar Latif, guru besar Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Marhaeni Astuti, guru besar dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Prof. Imam Taufik; dan budayawan Prie G.S.

Nur Hidayat Sarbini mengaku sangat puas dengan paparan yang diberikan kedua paslon saat menggapi isu terkait tema yang diusung dalam Debat Pilgub tahap ketiga itu, seputar Indek Pembangunan Manusia, penanganan permasalahan lingkungan seperti rob, dan pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng.

“Secara keseluruhan kami puas dengan galian ide yang disampaikan kedua paslon. Lebih baik dibanding debat pertama dan kedua. Di debat pertama dan kedua saya juga bertindak sebagai panelis, tapi ini yang paling memuaskan,” ujar Sarbini saat dijumpai Semarangpos.com seusai Debat Pilgub Jateng.

Sarbini menilai debat ketiga juga dikemas lebih menarik dibanding dua debat sebelumnya. Di sela debat, pihak event organizer menampilkan pertunjukan musik sehingga tidak terjadi gesekan maupun ketegangan di antara simpatisan kedua paslon yang menyaksikan secara langsung.

“Visi yang kami bangun agar debat ini bisa menjawab kebutuhan publik terpenuhi. Permasalahan yang selama ini belum terjawab di sini dipaparkan. Memang ada keterbatasan dalam menjawab, itu lebih dikarenakan durasi yang dibatasi [sekitar 6-7 menit],” beber Sarbini.

Senada juga diungkapkan panelis lain, Prie G.S. Mantan jurnalis di salah satu surat kabar di Jateng itu menilai kedua paslon menunjukkan kecerdasan dalam menjawab permasalah yang disajikan.

Meski demikian, ia meminta publik untuk tidak menjadikan debat sebagai patokan utama dalam memberikan pilihannya saat pencoblosan pada pilkada atau tepatnya Pilgub Jateng, Rabu (27/6/2018) nanti.

“Secara intelektual kedua paslon cukup memuaskan. Tapi ingat, jangan ini hanya dijadikan sebagai sebuah seni pertunjukan yang bias. Memang tadi ada paslon yang atraktif dan tidak dalam memberikan paparan. Tapi, toh belum tentu yang atraktif saat di panggung itu sesuai dengan apa yang dilakukan di lapangan,” beber Prie G.S. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tokopedia