Kisah Penjual Ketupat di Semarang, Berebut Lapak Hingga Dipalak Preman

Muzain saat menjajakan ketupat di Pasar Peterongan, Kota Semarang, Kamis (21/6 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
22 Juni 2018 19:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Puluhan pedagang ketupat tampak sibuk menjajakan dagangan di pinggir jalan Pasar Peterongan, Kota Semarang, Kamis (21/6/2018). Padatnya arus lalu lintas dan cuaca panas di kawasan itu seperti tak dirasa oleh para pedagang untuk terus mengais rezeki jelang perayaan Lebaran Ketupat.

Lebaran Ketupat, yang biasa dirayakan sepekan setelah Hari Raya Idulfitri, memang ditandai dengan menjamurnya pedagang selongsong ketupat di berbagai daerah, tak terkecuali di Semarang. Di ibu kota Jateng itu, pedagang selongsong ketupat banyak dijumpai di Pasar Peterongan dan Pasar Karangayu.

Para pedagang selongsong ketupat ini biasanya merupakan pedagang musiman. Dengan kata lain, mereka hanya berjualan ketupat menjelang Hari Raya Idulfitri maupun Lebaran Ketupat.

“Biasanya sih jadi buruh serabutan, mulai jadi buruh bangunan sampai menggarap lahan orang. Tapi, ini lagi jualan ketupat karena banyak yang cari. Lumayan buat tambah-tambah penghasilan,” ujar seorang pedagang ketupat di Pasar Peterongan, Muzain, 53, saat dijumpai Semarangpos.com, Kamis siang.

Muzain mengaku sudah lebih dari 16 tahun berjualan ketupat. Hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selama dua hari berjualan ketupat, pria asal Bangetayu, Kecamatan Genuk, itu mampu meraup pendapatan sekitar Rp600.000. Ia membuat ketupat dari janur yang dibeli Rp150.000 per ikat dari Salatiga.

Dari seikat janur itu, Muzain mampu menghasilkan 800 biji selongsong ketupat. Setiap selongsong ketupat ukuran kecil, ia hargai Rp500, sedangkan ukuran besar dibanderol Rp1.000.

“Kalau dibilang untung sih iya, tapi ya enggak banyak. Sekitar Rp500.000-Rp600.000 selama dua hari berjualan,” ujar Muzain.

Muzain mengaku selama dua hari berjualan selongsong ketupat di Pasar Peterongan, dirinya dibantu saudaranya, Saripah. Keduanya harus bergiliran begadang untuk melayani pembeli.

Bahkan keduanya harus tidur di lokasi tempat berjualan yang berada di pinggir jalan. Hal itu dilakukan agar lokasi tempat berjualan tidak diserobot pedagang lain.

“Ya, kalau ditinggal pulang kan nanti tempatnya diserobot pedagang lain. Soalnya, di sinikan sifatnya cepat-cepatan,” ujar Saripah.

Selain harus berlomba mendapatkan lokasi berjualan, para pedagang selongsong ketupat itu harus rela membayar uang jatah keamanan dari para preman pasar. Kalau tidak membayar pungutan itu, mereka pun tidak diizinkan berjualan.

“Biasanya [pungutan uang keamanan] Rp2.000 per hari,” terang pedagang lain yang enggan disebut namanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya