Paparan Paslon di Debat Pilgub Jateng Tak Puaskan Pakar Lingkungan

Para aktivis lingkungan saat berdemo menolak pembangunan pabrik semen Pegunungan Kendeng di Kantor Gubernur Jateng, Kota Semarang, beberapa waktu lalu. (Semarangpos.com)
23 Juni 2018 20:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Pakar lingkungan dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof. Sudharto, mengaku tak puas dengan pemaparan kedua pasangan calon (paslon) pilkada atau tepatnya Pilgub Jateng 2018 terkait penataan lingkungan hidup saat Debat Publik  di Hotel Patra, Kota Semarang, Kamis (21/6/2018).

"Saya rasa aspek yang dipaparkan kedua paslon terkait lingkungan jauh dari substansi. Saya enggak tahu? Apa itu karena kedua paslon yang kurang paham dengan permasalahan lingkungan di Jateng atau memang materi yang diberikan tim perumus [panelis] kurang mengena," ujar guru besar Ilmu Lingkungan Undip itu saat dihubungi Semarangpos.com, Jumat (22/6/2018).

Sudharto menyebutkan kedua paslon pilkada atau Pilgub Jateng 2018, baik Ganjar Pranowo-Taj Yasin maupun Sudirman Said-Ida Fauziyah, justru banyak mengupas pengembangan kawasan saat Debat Pilgub Jateng tahap ketiga itu. Padahal, tema yang diusung dalam debat terakhir  itu juga meliputi lingkungan hidup.

"Kalau soal lingkungan harusnya yang dibicarakan meliputi IKLH [Indeks Kualitas Lingkungan Hidup], seperti kualitas air, udara, dan lahan. Tapi, itu semua enggak disinggung sama sekali," tuturnya.

Menurut Sudharto, pengembangan lingkungan hidup sangat signifikan bagi pembangunan Jateng ke depan. Bencana alam seperti banjir, longsor, bahkan abrasi pesisir pantai sangat dipengaruhi kondisi lingkungan hidup.

"Sekarang dari 35 daerah di Jateng, 23 di antaranya rawan bencana banjir. Tapi ini enggak sama sekali disinggung. Kalau soal lingkungan hidup yang dibicarakan hal itu seharusnya mengemuka," beber Sudharto.

Senada juga diungkapkan anggota Jaringan Masyarakat Sipil untuk Keadilan Lingkungan dan Agraria (Jamaskeling) Jateng, Ivan Wagner Bakar. Ivan menilai apa yang disampaikan kedua paslon dalam Debat Pilgub Jateng menunjukkan pemahaman yang dangkal soal lingkungan hidup.

"Saat ditanya soal Kendeng [pembangunan pabrik semen] keduanya justru saling beragumen tentang embung dan jalan buatan. Malah ada yang bilang missinformasi kepada masyarakat," ujar Ivan.

Ivan menyebutkan logika kedua paslon soal Kendeng salah. Mereka berencana membangun embung dan sumur sebagai solusi perairan di Pegunungan Kendeng. "Padahal yang diinginkan adalah penolakan pabrik semen di Kendeng. Tapi, yang ditawarkan justru embung. Logika kedua paslon salah," tegas Ivan. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya