Tim Sudirman-Ida Ingatkan Panik Picu Cara Kotor

ilustrasi kejahatan siber, hoax. (Solopos/Whisnu Paksa)
26 Juni 2018 02:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Perasaan panik menjelang pemungutan suara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jateng dalam rangkaian pemilihan umum kepala daerah (pilkada) serentak 2018, Rabu (27/6/2018), bisa memicu penggunakan cara-cara yang kotor.

Peringatan itu dikemukakan juru bicara tim pemenangan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Tengah Sudirman Said-Ida Fauziyah, Sriyanto Saputro, di Kota Semarang, Jateng, Kamis (21/6/2018). "Mungkin ada yang panik, sehingga menggunakan cara-cara yang kotor," kata Sriyanto.

Hal tersebut disampaikan anggota DPRD Jawa Tengah dari Fraksi Gerindra itu menanggapi sejumlah akun di media sosial yang menyebar fitnah dan kabar bohong tentang Sudirman-Ida. Ia menyayangkan cara-cara kotor melalui media sosial tersebut. "Berpolitiklah dengan cerdas, rakyat jangan disuguhi hal-hal semacam ini," katanya lagi.

Menurut dia, jika calon gubernur petahana merasa di atas angin dengan tingkat elektabilitas tinggi berdasarkan sejumlah survei, maka tidak perlu lagi menggunakan cara-cara seperti ini. "Kalau memang jaraknya jauh. Ada yang bilang 'ditinggal tidur saja bisa menang', kan tidak perlu cara-cara seperti ini," katanya pula.

Meski diserang dengan kabar bohong dan fitnah melalui media sosial, ia meyakini hal tersebut tidak akan berdampak besar terhadap elektabilitas Sudirman-Ida dalam pilkada atau tepatnya Pilgub Jatengt 2018. "Tidak perlu pesimistis, justru ini jadi cambuk untuk berjuang dan menang," katanya.

Sebelumnya, Sudirman Said mengungkapkan beberapa akun twitter yang menyebar hoaks dan fitnah tentang dirinya dan Ida Fauziyah. Ia menilai ada pembiaran terhadap cuitan-cuitan itu, karena dilakukan secara berulang oleh akun yang sama.

Sementara itu,  pakar keamanan siber, Pratama Persadha, meminta masyarakat mewaspadai provokasi melalui media sosial dan Whatsapp menjelang pemungutan suara pilkada serentak di 17 provinsi, 115 kabupaten dan 39 kota. "Facebook, Twitter, Instagram, dan WA paling rentan digunakan sebagai provokasi pada masa tenang, mulai 24 hingga 26 Juni 2018," kata Pratama melalui surat elektroniknya yang diterima Kantor Berita Antara di Kota Semarang, Senin (25/6/2018).

Menurut Pratama, media sosial (medsos) dan WA relatif mudah digunakan oleh siapa saja. Bahkan di Twitter bisa dilihat relatif banyak sekali hoaks dan akun yang menyebarkan berbagai kabar palsu. "Tujuannya jelas untuk merusak suasana tenang pilkada," kata Pratama yang juga Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi atau Communication and Information System Security Research Center (CISSReC).

Aparat bersama masyarakat, kata Pratama, bisa melakukan kontrol bersama. Di grup WA dan medsos, misalnya, masyarakat bisa mengingatkan kawannya yang megungah berita maupun konten "hoax" lainnya. "Konten hoax ini 'kan tidak hanya berita. Foto dan video kini juga sangat rawan dimanipulasi," ujarnya.

Karena itu, katanya lagi, masyarakat juga perlu inisiatif untuk langsung mengingatkan kawannya yang telanjur mengunggah hoaks atau konten provokasi lainnya. Bahkan, medsos serta aplikasi chatting, seperti WA bisa digunakan secara positif selama pencoblosan. Lewat fitur yang ada, masyarakat bisa langsung menyiarkan sendiri hasil di setiap TPS-nya masing-masing.

Instagram dan Facebook, misalnya, ada fitur video live streaming. Artinya, masyarakat tidak hanya bisa mem-posting foto, tetapi langsung live video tanpa proses editing, mengabarkan berapa saja suara di TPS. "Ini tentu baik dan bisa menjadi bukti bila nanti ada perbedaan penghitungan suara," kata pria asal Cepu, Kabupaten Blora, Jateng ini.

Pratama berharap pilkada serentak bisa berjalan dengan lancar walau usaha provokasi dari berbagai pihak masih ada, terutama menggunakan media sosial. Menurut dia, ke depan masyarakat bisa diedukasi untuk memanfaatkan lebih jauh telepon pintar (smartphone) yang ada sebagai bahan pengumpul bukti yang berguna bila ada sengketa suara.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tokopedia

Sumber : Antara