Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Jatibarang Ditargetkan Beroperasi Oktober 2018

Ilustrasi gunungan sampah. (Solopos)
29 Juni 2018 08:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLT-Sa) Jatibarang yang merupakan salah satu proyek pembangunan di Kota Semarang dalam penyediaan pasokan energi, ditargetkan beroperasi pada Oktober 2018.

"Saat ini perkembangan pembangunan PLT-Sa Jatibarang masih dalam tahap persiapan operasional. Progresnya sudah 70%," ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, Gunawan Saptogiri di Semarang, Kamis (28/6/2018). Pembangkit listrik itu dibangun di sekitar areal Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang Semarang yang pengoperasiannya memanfaatkan limbah sampah yang ditampung di tempat itu untuk diolah menjadi tenaga listrik.

Gunawan menjelaskan saat ini masih menunggu pengiriman mesin dari Spanyol yang diharapkan bisa sesuai jadwal sehingga rencana pengoperasian PLT-Sa tersebut bisa direalisasikan pada Oktober 2018 mendatang. "Lahannya kurang lebih seluas 9 hektare kan juga sudah diratakan dengan tanah. Ini masih menunggu mesin dari Spanyol. Pemilihan mesin dari Spanyol menyesuaikan kapasitas gas metana yang dihasilkan," katanya.

Gas metana dihasilkan dari pengolahan sampah yang kemudian menghasilkan panas untuk pengoperasian PLT-Sa. Kapasitas gas metana itu diperkirakan menghasilkan listrik sekitar 1,2 megawatt (MW). "Nantinya, listrik yang dihasilkan dari pengoperasian PLT-Sa ini akan dikelola oleh badan usaha milik daerah [BUMD] yang akan bekerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara [PLN] untuk penjualannya," kata Gunawan.

Menurut dia, pembangunan PLT-Sa Jatibarang itu merupakan bantuan dari Pemerintah Denmark dengan nilai Rp45 miliar yang menempati lahan seluas 9 ha dengan anggaran pembebasan lahan sebesar Rp9 miliar. "Selain lahan 9 ha yang dibebaskan, di area ini juga dibangun zona gas baru yang merupakan bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan nilai Rp18 miliar," katanya.

Untuk memaksimalkan pasokan energi, kata dia, Pemerintah Kota Semarang juga berencana membangun satu PLTSa baru dengan teknologi insenerator, tetapi masih dalam tahap feasibility study (FS). Perbedaan kedua PLT-Sa itu, kata dia, dalam bahan bakar yang digunakan, yakni PLTSa pertama memamai gas metana dari timbunan sampah, sementara PLTSa kedua menggunakan insenerator untuk membakar sampah.

Nantinya, kata dia, pengelolaan kedua PLTSa tetap diserahkan kepada BUMD atau holding company, yakni PT Bumi Pandanaran Sejahtera. Sementara itu, penjualan listriknya tetap diserahkan kepada PLN.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara