Diperiksa KPK, Ganjar Pranowo Bantah Kenal Irvanto Hendra dan Made Oka Masagung

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/6 - 2018). (Antara/Wibowo Armando)
29 Juni 2018 01:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, JAKARTA — Selang sehari setelah hari pencoblosan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah dalam rangkaian pemilihan umum kepala daerah (pilkada) serentak 2018, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memenuhi panggilan pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi. Tentu saja, ia membantah setiap tuduhan penyidik KPK.

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu mengaku tidak mengenal dua tersangka kasus korupsi KTP elektronik (e-KTP), Irvanto Hendra Pambudi dan Made Oka Masagung. Irvanto Hendra Pambudi adalah keponakan terpidana kasus korupsi pada pengadaan paket penerapan KTP berbasis nomor induk kependudukan secara nasional, Setya Novanto.

"Tidak, saya tidak kenal," kata Ganjar seusai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/6/2018).

Diterangkan Ganjar saat datang di Gedung KPK itu, dirinya diperiksa sebagai saksi untuk dua tersangka tersebut. "Saya hari ini menepati janji karena waktu ada pemanggilan saya meminta ditunda, maka persis sehari setelah pencoblosan, hari ini saya datang untuk menghadiri undangan dari KPK terkait dengan kesaksian untuk Irvanto sama Pak Oka," ucap Ganjar.

Ganjar mengaku bahwa materi pemeriksaannya kali ini masih sama seperti saat dirinya diperiksa untuk tersangka kasus korupsi e-KTP lainnya, seperti Setya Novanto dan Andi Agustinus alias Andi Narogong. Ia mengaku dimintai konfirmasi terkait proses penganggaran, aliran dana, serta pengetahuannya terhadap tersangka kasus e-KTP.

"Sama masih seperti yang dulu proses penganggaran, kenal atau tidak, terima uang atau tidak. Itu saja," ungkap Ganjar.

Pemeriksaan Ganjar ini merupakan penjadwalan ulang. Sedianya Ganjar dijadwalkan diperiksa lembaga antirasuah itu, Selasa (5/6/2018). "Ya iyalah, saya hanya minta setelah coblosan. Tidak enak juga kan kalau masih proses gitu nanti tidak konsen," ucap Ganjar.

Irvanto yang merupakan keponakan Setya Novanto telah ditetapkan bersama Made Oka, pengusaha sekaligus rekan Novanto sebagai tersangka korupsi e-KTP pada 28 Februari 2018 lalu. Irvanto diduga sejak awal mengikuti proses pengadaan e-KTP dengan perusahaannya, yaitu PT Murakabi Sejahtera dan ikut beberapa kali pertemuan di Ruko Fatmawati bersama tim penyedia barang proyek e-KTP.

Ia juga diduga telah mengetahui ada permintaan fee sebesar lima persen untuk mempermudah proses pengurusan anggaran e-KTP. Irvanto diduga menerima total US$3,4 juta pada 19 Januari-19 Februari 2012 yang diperuntukkan kepada Novanto secara berlapis dan melewati sejumlah negara.

Sedangkan Made Oka adalah pemilih PT Delta Energy, perusahaan SVP dalam bidang investment company di Singapura yang diduga menjadi perusahaan penampung dana. Made Oka melalui kedua perusahaannya diduga menerima total US$3,8 juta sebagai peruntukan kepada Novanto yang terdiri atas US$1,8 juta melalui perusahaan OEM Investment Pte. Ltd. dari Biomorf Mauritius dan melalui rekening PT Delta Energy sebesar US$2 juta. Made Oka diduga menjadi perantara uang suap untuk anggota DPR sebesar 5% dari proyek e-KTP.

Keduanya disangkakan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU No. 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara