Unnes Pertanyakan Isu Plagiarisme Rektor Mencuat Bersamaan Pemilihan Rektor

Tugu lambang Universitas Negeri Semarang di Kampus Unnes, Gunungpati, Kota Semarang, Jateng. (Facebook.com)
03 Juli 2018 11:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Wajar saja sebenarnya jika borok seseorang meruap menjelang pemilihan. Tujuannya bisa saja demi mencegah terpilihnya orang yang dianggap bercela untuk periode berikutnya. Tak terkecuali pada Prof. Fathur Rokhma yang didera isu plagiarisme menjelang pemilihannya kembali menjadi rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Namun, hal itu justru dipertanyakan otoritas kampus Unnes di Semarang. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Humas Unnes Hendi Pratama di Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (2/7/2018), mempertanyakan  munculnya dugaan plagiarisme Fathur Rokhman yang mencuat bersamaan dengan musim Pemilihan Rektor Unnes.

"Saya tidak mengatakan sebab-akibat, tetapi kebetulan berita semacam ini keluar bersamaan dengan pilrek," kata Hendi Pratama sebagaimana dikutip Kantor Berita Antara. Unnes akan menggelar pemungutan suara pertama untuk tahapan penjaringan nama calon rektor dari lima bakal kandidat kemudian dikerucutkan menjadi tiga bakal calon, Selasa (3/7/2018).

Hendi tidak menyimpulkan mencuatnya isu tersebut berkaitan erat dengan ajang Pemilihan Rektor Unnes, tetapi hanya mempertanyakan kenapa bisa bersamaan mencuatnya pada saat-saat Pemilihan Rektor Unnes. "Kenapa munculnya pada waktu-waktu yang cukup krisis, atau istilahnya momennya kok pas begitu. Tanggal 3 Juli 2018 mau pemilihan, kok munculnya pemberitaan tanggal 1 Juli-nya," ungkapnya.

Ia lalu mengemukakan harapan pemberitaan tentang aib rektor incumbent yang muncul ke permukaan tersebut memiliki tujuan untuk memperbaiki kualitas pendidikan tinggi dan tidak akan mempengaruhi nama baik Unnes sebagai salah satu perguruan tinggi negeri (PTN). Dia lalu memaparkan reputasi Unnes akan tetap berpegang pada kualitas PTN tersebut yang terus berkembang, seperti jumlah akreditasi A, akreditasi institusi, dan fasilitas yang terus berkembang.

"Masyarakat pasti mengerti. Terkait permasalahan dugaan plagiarisme ini, saya tidak katakan berhubungan. Tetapi, kok tanggalnya mirip [bersamaan] dengan ajang Pilrek Unnes," ulangnya.

Berkaitan dengan dugaan kasus itu yang justru muncul dari internal, yakni majelis rektor, ia mengaku sejauh ini kalangan internal justru belum mengetahui permasalahan tersebut. Yang jelas, simpul dia, Unnes secara kontinyu selalu melakukan tindak lanjut atas apapun laporan dari masyarakat, termasuk dugaan plagiarisme, tetapi pasti memerlukan klarifikasi dan proses panjang.

"Kami benar-benar berhati-hati menghadapi hal tersebut. Jangan sampai itu hanya muncul bukan ingin membenahi pendidikan Indonesia, tetapi karena kepentingan politik tertentu," katanya. Hendi mencontohkan isu dugaan plagiarisme yang muncul belakangan ini, yakni pada 2018, sementara artikel yang dimaksud terbit pada 2003 ketika profesor yang dimaksud belum bergelar profesor saat itu.

Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman diduga melakukan plagiarisme atas hasil penelitian yang produk ilmiahnya sama persis dengan karya skripsi bekas mahasiswa PTN itu. Penelitian yang dimaksud berjudul Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas yang dipublikasikan oleh Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya UNY pada 2004.

Penelitian Anif Rida berjudul Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya Bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas yang dipublikasikan saat Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya pada 2003.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara