Direktur PT Sofia Lolos Jerat Hukum, Migrant Care Upayakan Kasasi

Kepala Bidang Hukum Migrant Care, Nur Harsono (kedua dari kanan), berbincang dengan jaksa seusai sidang kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Pengadilan Negeri Semarang, Kamis (5/7 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
06 Juli 2018 08:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Migrant Care mengaku kecewa dengan keputusan hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang yang memutuskan bebas terdakwa kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO), Direktur PT Sofia Sukses Sejati, Windi Hiqma Ardani.

Lembaga yang banyak berkecimpung dalam pembelaan dan advokasi hak-hak buruh migran itu pun mendesak Kejaksaan untuk melakukan kasasi sebagai upaya membantu para korban, yang merupakan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Windi diputuskan bersalah oleh majelis hakim yang diketuai Pudjiastuti Handayani dalam sidang, Kamis (5/6/2018). Meski demikian, hakim menilai tindak pidana yang dilakukan Windi sehingga perempuan berjilbab itu pun dinyatakan bebas.

"Terdakwa terbukti bersalah, tapi tidak masuk dalam perbuatan pidana, melainkan perdata. Atas pertimbangan itu, terdakwa dinyatakan bebas," ujar Pudjiastuti.

Kepala Bidang Hukum Migrant Care, Nur Harsono, menyesalkan putusan hakim itu. Padahal, ia menilai terdakwa jelas telah melakukan pelanggaran TPPO.

“Nanti, kami akan meminta jaksa mengajukan kasasi. Dalam kurun 20 hari ini kami akan melakukan pertimbangan atas keputusan hakim,” jelas Nur saat dijumpai wartawan seusai persidangan.

Nur menilai hakim kurang cermat dalam memeriksa.perkara. Menurutnya, hakim tidak mempertimbangkan keterangan saksi dan fakta persidangan selama kasus berlangsung.

“Pertimbangan hakim justeru lebih banyak pada saksi yang meringankan. Bukan saksi fakta. Itu yang membuat putusan hakim mengecewakan,” tutur Nur.

Menurut Nur, fakta di lapangan sudah membuktikan apa yang dilakukan terdakwa telah memenuhi unsur pasal 48 UU No.21/2017 tentang Pemberantasan TPPO. Salah satunya, yakni dengan menempatkan TKI asal Jawa Tengah (Jateng) tidak sesuai kontrak dan jam kerja melebihi kontrak. Upah yang dibayarkan kepada para TKI juga tidak sesuai dengan yang tercantum di kontrak awal.

Ending-nya, para TKI ditangkap polisi Malaysia dan ditahan selama dua bulan. Ini jelas bukti kalau mereka merupakan korban TPPO. Mereka adalah korban eksploitasi tenaga kerja,” imbuh Nur.

Sebelumnya, Windi didakwa telah melakukan penipuan kepada ratusan TKI. Para TKI itu ditawari kerja di Malaysia saat masih duduk di bangku sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jateng.

Mereka ditawari bekerja di PT Kiss Production Food Trading dengan upah RM900-RM1000. Namun  sesampainya di Malaysia, para TKI asal Jateng itu tidak dipekerjakan di PT Kiss, melainkan PT Maxim Birdnes dengan gaji di bawah nilai kontrak awal. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tokopedia