Salahi Aturan, Pemilihan Calon Rektor Unnes Dianulir

Ketua Senat Unnes, Prof. Soesanto (kedua dari kiri), saat menghadiri sesi jumpa pers di Kampus Unnes, Gunungpati, Semarang, Selasa (10/7/2018). (JIBI/Semarangpos.com - Imam Yuda S.)
11 Juli 2018 08:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Senat Universitas Negeri Semarang (Unnes)  dipastikan harus mengulang proses pemilihan calon rektor periode 2018-2022. Alasannya, penjaringan calon rektor yang digelar dalam Rapat Senat Unnes itu tidak sesuai dengan aturan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Dalam rapat pleno yang digelar di Gedung Auditorium Kampus Unnes, Gunungpati, Semarang, Selasa (3/7/2018) itu, menghasilkan tiga kandidat yang berhak maju dalam Pemilihan Rektor Unnes Periode 2018-2022. Ketiga kandidat itu, yakni calon petahana rektor Unnes, Prof. Fathur Rokhman, Dr. Achmad Rifai R.C., dan Martitah.

Fathur Rokhman kembali maju setelah mendapat suara mayoritas, yakni 62 suara dari 65 anggota Senat Unnes. Sementara, Achmad Rifai dan Martitah, masing-masing mendapat dua suara. Sedangkan dua kandidat lainnya, Wirawan Sumbodo dan Eko Handoyo, harus tereliminasi karena tidak mendapat dukungan satu suara pun dari anggota Senat Unnes.

Meski demikian, hasil penjaringan calon rektor Unnes yang digelar dalam Rapat Pleno Senat Unnes itu harus dianulir atau dibatalkan.

Ketua Senat Unnes, Prof. Soesanto, mengatakan diulangnya rapat terbuka itu karena tidak lengkapnya unsur eksternal atau luar kampus yang hadir saat itu, yakni perwakilan Kemenristekdikti. Saat rapat pleno yang digelar secara terbuka sebagai syarat pemilihan rektor itu, perwakilan Kemenristekdikti memang tidak hadir.

Padahal, sesuai dengan aturan yang tercantum dalam Permenristekdikti No. 19/2017 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Pemimpin Perguruan Tinggi jelas-jelas disebutkan bahwa rapat terbuka senat wajib dihadiri pejabat kementerian yang ditunjuk menteri. Pejabat kementerian yang hadir memang tidak memiliki hak suara, namun berhak mengajukan pertanyaan kepada kandidat yang maju dalam proses pemilihan rektor.

“Kami sebenarnya sudah mengirimkan surat undangan ke Kemenristekdikti sejak 22 Juni 2018. Namun, hingga tanggal 2 Juli, tidak ada jawaban. Jadi, tanggal 3 Juli kami gelar. Hasilnya baru kami laporkan secara langsung pada tanggal 4 Juli,” terang Soesanto saat sesi jumpa pers di Kampus Unnes, Gunungpati, Semarang.

Soesanto menampik jika tidak disahkannya hasil Rapat Terbuka Senat Unnes, yang menjadi tahap proses pemilihan rektor itu karena adanya isu plagiat yang tengah menerpa salah satu calon, yakni Prof. Fathur Rokhman.

“Tidak ada kaitannya sama sekali. Penjaringan harus diulang karena tidak dihadiri perwakilan Kemenristekdikti,” tegas Soesanto.

Soesanto mengatakan diulangnya Rapat Pleno Senat Unnes itu dipastikan tidak akan menggangu proses pemilihan rektor periode 2018-2022. Proses pemilihan akan berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

“Untuk rapat [proses penjaringan] akan kami gelar kembali pada 31 Juli 2018,” ujar mantan rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) itu.