Badjingan Diburu di Festival Desa Wisata Jateng

Dua pengunjung Festival Desa Wisata (FDW) di Alun-Alun Bung Karno, Kabupaten Semarang, tengah mencoba kuliner badjingan di stan Desa Wisata Banyubiru, Kabupaten Magelang, Sabtu (14/7/2018). (JIBI/Semarangpos.com - Imam Yuda S.)
15 Juli 2018 19:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Mendengar kata-kata ‘badjingan’, konotasi kita pasti akan langsung terbayang sesuatu yang kasar atau tidak sopan. Hal itu dikarenakan selama ini kata-kata ‘bajingan’ kerap digunakan untuk sebuah umpatan untuk merespons perilaku seseorang yang tidak sopan, kurang ajar, atau tidak terpuji lainnya.

Namun, badjingan yang satu ini justru banyak diburu masyarakat saat acara Festival Desa Wisata (FDW) Jawa Tengah (Jateng)  di Alun-Alun Bung Karno, Kabupaten Semarang, Sabtu-Minggu (14-15/7/2018).

Tokopedia

Badjingan yang satu ini merupakan nama kuliner yang terbuat dari olahan ketela yang dicampur dengan cairan gula merah atau gula jawa. Kuliner ini dipamerkan oleh pengelola Desa Wisata Banyubiru, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, di salah satu stan di FDW Jateng.

“Namanya memang badjingan. Sudah dari dulu namanya seperti itu. Memang kedengarannya enggak sopan. Tapi, ya nama aslinya seperti itu,” ujar Ketua Pokdarwis Tirta Biru, Desa Banyu, Fathul Mujib, saat dijumpai Semarangpos.com di stannya.

Mujib mengaku tidak tahu menahu asal muasal kuliner dari olahan ketela itu dinamai badjingan. Ia hanya mengetahui jika kuliner itu merupakan warisan leluhur yang patut dilestarikan.

“Makanan ini sudah ada sejak zaman dulu, tepatnya saat masih masa penjajahan. Orang-orang zaman dulu mengonsumsi ketela yang diolah dengan gula jawa. Mungkin biar enggak membosankan saat dimakan,” tutur Mujib.

Selain yang dicampur dengan gula jawa, pengelola Desa Wisata Banyubiru juga memodifikasi kuliner  badjingan dengan berbagai rasa. Mereka mencampur ketela yang sudah direbus dengan campuran susu dan santan.

“Badjingan yang warna putih ini [campuran susu dan santan] justru kerap disajikan untuk tamu-tamu di hotel berbintang di Magelang,” tutur Mujib.

Meski namanya terkesan kasar dan tidak sopan, namun badjingan rupanya cukup nikmat hingga banyak pengunjung yang ketagihan menjajal kuliner dari ketela itu di stan Desa Wisata Banyubiru. Salah satunya adalah Aditya asal Bandung.

Ketua Pokdarwis Tirtabiru, Desa Banyubiru, Magelang, Fathul Mujib, menunjukkan kuliner dari ketela, Badjingan, di acara Festival Desa Wisata Jateng di Alun-Alun Bung Karno, Kabupaten Semarang, Sabtu (14/7/2018). (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)

Adit, sapaan pria berusia 30 tahun itu mengaku sengaja hadir di FDW untuk melihat potensi wisata yang ditawarkan desa-desa wisata di Jateng.

“Rasanya enak. Namanya yang terkesan kasar dan tidak sopan, justru membuat saya penasaran ingin mencoba,” ujar Adit .

Terpisah, Kepala Dusun Banyubiru, Supriyadi, mengatakan kuliner badjingan bukan satu-satunya potensi wisata yang disajikan di Desa Banyubiru. Ada berbagai potensi wisata lainnya, seperti panorama alam pedesaan, hingga sensasi kehidupan pedesaan.

“Potensi alam di desa kami cukup menarik untuk dikunjungi wisatawan karena terletak di lereng Gunung Merapi. Selain itu, wisatawan yang berkunjung juga akan kami ajak merasakan kehidupan pedesaan, seperti membajak sawah dengan kerbau dan lain-lain,” ujar Supriyadi.