Harga Petai Tembus Rp100.000, Catat Sejarah Baru!

Seorang pedagang sayur di Pasar Johar Baru, Satinah, tengah memajang biji petai di lapaknya, Senin (16/7/2018). (JIBI/Semarangpos.com - Imam Yuda S.)
17 Juli 2018 08:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Musim kemarau yang cukup panjang di sejumlah daerah di Jawa Tengah (Jateng), rupanya berdampak pada harga kebutuhan bahan pokok. Salah satunya adalah harga komoditas sayur, petai. Harga petai tembus Rp100,000. Menurut pedagang sayur, kenaikan harga ini menjadi yang tertinggi dalam sejarah.

Di Pasar Johar Baru Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), harga petai bahkan melambung cukup tinggi selama sebulan terakhir. Pantau Semarangpos.com, harga petai di salah satu pasar tradisional di Semarang itu bahkan mencapai Rp100.000 per ikat yang terdiri atas 15 lonjor, atau naik empat kali lipat dibanding saat sebelum Idulfitri beberapa waktu lalu.

“Sekarang petai harganya sudah Rp100.000 per ikat. Dulu saya jual satu lonjor Rp3.000, sekarang enggak berani. Paling Rp5.000 per lonjor, itu pun untungnya sedikit,” ujar seorang pedagang petai di Pasar Johar Baru, Satinah, saat dijumpai Semarangpos.com, Senin pagi.

Satinah mengaku biasanya mendapat pasokan petai dalam jumlah berlimpah. Petai yang dijual disuplai dari para pedagang asal Soloraya.

Namun, beberapa pekan terakhir pasokannya menurun. Ia memperkirakan pasokan yang turun itu disebabkan para petani mengalami gagal panen saat musim kemarau.

“Barangnya jadi langka. Mungkin karena musim kemarau. Semoga bulan depan, pasokannya sudah lancar dan harganya sudah normal lagi,” harap Satinah.

Satinah mengaku sudah 40 tahun berjualan sayur di Pasar Johar. Sebelum menempati lapak di belakang MAJT, ia berjualan di Pasar Johar lama yang saat ini masih dalam proses pembangunan akibat dilalap si jago merah.

Satinah menyebutkan petai merupakan komoditas sayuran yang kerap diburu pelanggan. Dalam kondisi normal, ia mampu menjual sekitar 400 lonjor petai per hari.

“Ini kenaikan tertinggi selama saya jadi pedagang sayur. Alhasil banyak pembeli, terutama pemilik warung makan, yang enggak mau membeli petai,” beber Satinah.

Sementara itu, seorang ibu rumah tangga, Kusuma Ayu, mengaku harus menahan keinginan mengonsumsi petai.

“Saya suka mencampur petai untuk dicampur sambal dan tauco. Pas mau belanja di sini, harganya mahal banget. Jadi beli sedikit saja,” tutur Ayu.