Penyandang Tunanetra Semarang Euforia Final Piala Dunia

Kaum tunanetra Semarang menikmati jalannya laga final Piala Dunia 2018 melalui pengeras suara di Kantor RRI Semarang, Minggu (15/7/2018). (JIBI/Semarangpos.com - Imam Yuda S.)
17 Juli 2018 06:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG - Euforia berlangsungnya laga final Piala Dunia 2018, Minggu (15/7/2018) malam, rupanya tidak hanya menyedot perhatian kalangan masyarakat normal.

Ratusan warga berkebutuhan khusus, yang tergabung dalam Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Semarang juga turut larut dalam euforia partai puncak turnamen sepak bola terbesar di Tanah Air itu.

Tokopedia

Hal itu terlihat di halaman Kantor RRI Kota Semarang, Minggu malam. Saat ratusan warga normal menyaksikan duel final antara Prancis dan Kroasia melalui layar raksasa, para penyandang tunanetra itu terlihat asyik menyimak jalannya laga yang disiarkan secara langsung oleh RRI.

Mereka terlihat antusias mendengarkan narasi yang dibacakan penyiar radio di depan pengeras suara berukuran besar yang diletakkan di sudut halaman Kantor RRI. Tak mau ketinggalan dengan warga yang menyaksikan laga dari layar kaca, belasan penyandang tunanetra itu juga berteriak histeris setiap kali momen mendebarkan terjadi dalam laga.

“Kami senang sudah diberi ruang mendengarkan bareng laga final Piala Dunia ini. Ini fasilitas yang luar biasa bagi kami. Ini momen kebersamaan kami,” ujar Ketua Pertuni Semarang, Ahyani, saat dijumpai Semarangpos.com di sela acara Dengar Bareng Final Piala Dunia di halaman Kantor RRI Semarang, Minggu malam.

Ahyani mengaku sepak bola sungguh universal karena disukai siapa saja. Tak hanya orang normal, kaum yang memiliki keterbatasan penglihatan juga bisa menikmati.

Terbukti ada puluhan penyandang tunanetra di Semarang yang sangat serius mengikuti kata per kata yang dibawakan penyiar RRI itu.

Mereka bahkan sesekali memperlihatkan tawa atau senyum lebar saat penyiar menyuarakan kata gol. Penyiar RRI juga kerap menggambarkan keadaan stadion, tempat berlangsungnya laga final Piala Dunia.

Meski tak bisa menikmati bentuk stadion dan suasana laga, toh mereka mengaku bisa memvisualisasikan melalui pendengaran.

“Jadi tak kalah dengan orang lain. Jangan heran meski nyaris gol kami bisa menggambarkan bahwa bola itu berbahaya saat memasuki kotak pertahanan,” terang Ahyani.

Acara Dengar Bareng Final Piala Dunia itu digelar bersamaan dengan Nobar Final Piala Dunia 2018 di Kantor RRI Semarang. Sejumlah pejabat hadir dalam acara itu, seperti Kapolda Jateng, Irjen Pol. Condro Kirono; Sekda Jateng, Sri Puryono; dan Kasdam IV Diponegoro, Brigjen TNI Bakti Agus Fajari.

Kapolda berharap dengan digelarnya acara nobar bisa mempererat tali silaturahmi di antara warga Kota Semarang. Masyarakat juga bisa belajar dari suporter luar negeri yang tidak terlibat perselesihan meski tim yang didukung kalah.

“Sepak bola itu mempersatukan bangsa. Jangan sampai gara-gara mendukung tim yang berbeda timbul perpecahan,” ujar Kapolda Jateng.