Difteri Renggut Nyawa Bocah Semarang, Pemkot Tak Tetapkan KLB

Seorang balita tengah mendapatkan suntik vaksin difteri di Kelurahan Genuk, Kota Semarang, Jumat (20/7 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
20 Juli 2018 16:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Lima orang suspect difteri ditemukan di Kota Semarang. Dari lima orang itu, satu di antara mereka bahkan meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUP dr. Kariadi, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (19/7/018) malam.

Meski demikian, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, belum menyatakan kondisi luar biasa (KLB) atau zona merah penyakit difteri di wilayahnya. Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, bahkan menegaskan bahwa adanya informasi yang tersebar melalui aplikasi Whatsapp (WA) yang menyatakan bahwa Kelurahan Genuksari masuk zona merah penyebaran penyakit difteri dan bahaya untuk dilewati adalah hoaks atau kabar bohong.

Tokopedia

“Itu hoaks! Memang ada kasus difteri di sana, tapi sudah ditangani sedulur-sedulur Dinas Kesehatan Kota Semarang, sehingga tidak ada namanya zona merah apalagi sampai tidak boleh dilewati,” jelas wali kota Semarang yang akrab disapa Hendi itu dalam keterangan resmi, Jumat siang.

Hendi menuturkan pada Juni-Juli 2018 kasus difteri memang dialami tujuh anak di Genuksari. Dari tujuh anak itu, lima di antara mereka masih menjalani perawatan, sedangkan dua  anak meninggal dunia. Satu dari kedua anak itu bahkan meninggal dunia Kamis malam.

Anak yang baru saja mengembuskan napas terakhir itu bernama Bunyamin bin Mochamad Chozin, 12 tahun, warga RT 011/RW 003, Genuksari. Sedangkan empat saudara Bunyamin yang juga menderita difteri, saat ini masih dirawat di RSUP dr. Kariadi.

 “Jadi tujuh anak yang menderita difteri itu saat bayi dulu tidak diimunisasi karena orang tua menolak. Sikap itu sungguh kami sesalkan. Selama tidak menolak imunisasi tidak perlu khawatir, karena pencegahan utama difteri adalah imunisasi. Ketersediaan vaksin difteri di Kota Semarang sangat cukup,” imbuh Hendi.

Hendi juga menuturkan adapun upaya yang telah dilakukannya untuk menangangi kasus difteri di Genuksari salah satunya dengan melakukan ORI (Outbreak Response Immunization) kepada semua anak di Kelurahan Genuksari. Padahal, biasanya ORI akan diterapkan pada suatu daerah jika telah ditetapkan KLB difteri.

"Selain itu [ORI], Dinas Kesehatan Kota Semarang juga telah memberikan profilaksis kepada kontak penderita, serta memberikan erytromicin ke kontak penderita dan pengambilan swab tenggorok ke kontak penderita", papar politikus PDI Perjuangan itu.

Sementara itu, Fakultas Kedokteran (FK) Unissula yang namanya dicatut sebagai sumber informasi hoaks itu mengaku kecewa. Kepala Humas Fakultas Kedokteran Unissula, Purwito Soegeng Prasetijono, menyatakan pihaknya tidak pernah merilis imbauan kepada masyarakat terkait pentingnya menggunakan masker saat melewati Jl. Dong Biru, Kelurahan Genuksari.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya