Kodam Diponegoro Tegaskan Bandara Ahmad Yani Semarang Dasarnya Lanumad

Ilustrasi taksi menunggu penumpang di bandara. (Bisnis/Felix Jody Kinarwan)
20 Juli 2018 22:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Kodam IV/Diponegoro menegaskan tidak ada monopoli perusahaan taksi di Bandar Udara Ahmad Yani Semarang, Jawa Tengah. Penegasan itu dikemukakan Kepala Penerangan Kodam IV/Diponegoro Letkol Zaenuddin di Kota Semarang, Jumat (20/7/2018), setelah pada akhirnya di bandara yang juga dikelola PT Angkasa Pura itu dioperasikan taksi berargometer.

Meskipun pada akhirnya membiarkan taksi berargometer beroperasi di bandara tersebut, hanya empat operator taksi yang dijadikan mitra Koperasi S16 Pangkalan Udara Utama Militer TNI AD (Lanumad) dan bebas mengambil penumpang di area bandara tersebut. Keempat operator itu adalah Taksi Atlas, Kosti, Astria, dan Puri Kencana.

Tokopedia

Penyangkalan adanya monopoli demi melindungi bisnis anggota TNI dengan selimut koperasi itu disampaikan Kepala Penerangan Kodam IV/Diponegoro Letkol Zaenuddin sebagai tanggapan atas surat terbuka warganet di media sosial tentang taksi bandara. Menurut Zaenuddin, pengelolaan Bandara Ahmad Yani Semarang mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 56 Tahun 2015.

"Permenhub 56 menyatakan pengelolaan jasa pelayanan di Bandara Semarang harus melalui perjanjian kerja sama yang menguntungkan antara pengelola dengan perusahaan jasa terkait," katanya.

Dalam Permenhub tersebut disebutkan jika seseorang dalam memilih sarana transportasi di kompleks bandara Semarang ini tidak sebebas di ruang publik lainnya. Diingatkannya, Bandara Ahmad Yani pada dasarnya merupakan Lanumad tetapi dilandasi dengan kesadaran dan keikhlasan untuk mendukung program pemerintah, maka dipergunakan bersama masyarakat.

Hanya empat operator taksi yang boleh menjemput penumpang di infrastruktur transportasi publik di bawah pengelolaan PT Angkasa Pura karena telah dijadikan mitra Koperasi S16 Lanumad Ahmad Yani. Hal itu dianggapnya sebagai pembenar tidak adanya monopoli di bandara tersebut.

Dengan tidak adanya monopoli, imbuh dia, diharapkan akan bangkit persaingan pelayanan yang sehat sebagaimana diamanatkan dalam Permenhub 56/2015. "Mungkin hanya sedikit militer di dunia yang bandaranya digunakan bersama dengan maskapai penerbangan sipil," tukasnya.

Oleh karena itu, lanjut dia, sebagai unsur pertahanan negara, pihak pengelola bandara diminta menciptakan ketertiban, kelancaran, serta keamanan yang ekstra ketat dibandingkan bandara lain. "Di antaranya dengan membuat kerja sama yang ketat pula," katanya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pada kesempatan berbeda meminta PT Angkasa Pura I (Persero) sebagai pengelola Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang merealisasikan rencana membuka peluang kemitraan dengan seluruh perusahaan penyedia taksi melalui lelang terbuka.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara