Sepanjang 2018, 4 Suspect Difteri Meninggal di RSUP Kariadi

Warga Genuksari tengah mengantre untuk mendapatkan vaksin difteri di Posyandu Kelurahan Genuksari, Kota Semarang, Jumat (20/7 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
21 Juli 2018 08:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Sejak Desember 2017, RSUP dr. Kariadi, Kota Semarang, telah merawat 23 penderita virus difteri. Dari jumlah sebanyak itu, empat pasien di antaranya gagal diselamatkan atau meninggal dunia.

Dari empat suspect difteri yang meninggal dunia, satu orang di antaranya menghembuskan nafas terakhir, Kamis (19/7/2018) malam. Satu suspect difteri yang meninggal dunia itu, yakni Bn, 12, warga RT 011/RW 003, Genuksari, Kecamatan Genuk, Kota Semarang.

“Jumlah kasusnya meningkat lagi. Padahal saat Desember 2017 kemarin sudah agak mereda. Tapi, ketika memasuki bulan Juni, temuannya [suspect difter] semakin banyak,” tutur Dokter RSUP dr. Kariadi, dr. Hapsari, saat dijumpai wartawan di RSUP dr. Kariadi, Jumat (20/7/2018).

Hapsari menyebutkan dari empat suspect difteri yang meninggal dunia itu, dua orang di antaranya berasal dari Semarang. Sementara, dua korban lainnya dari Temanggung.

Dari dua yang meninggal dunia itu, salah satunya adalah Bn. Bn dirujuk ke RSUP dr. Kariadi dalam kondisinya sudah parah, Senin (16/7/2018). Ia dirawat di RSUP dr. Kariadi dalam keadaan denyut jantung sudah lemah dan toxin virus difteri diperkirakan telah menjalar ke ginjal. Bn pun dinyatakan meninggal dunia, Kamis sekitar pukul 16.55 WIB.

Sementara satu warga Semarang lainnya yang meninggal akibat difteri, ialah A, warga Tembalang. Ia dirujuk ke RSUP dr. Kariadi juga dalam kondisi parah, Juni lalu.

Ia dirawat dalam kondisi leher yang telah membengkak. Setelah menjalani rawat inap, A pun mengalami penyumbatan nafas, gangguan jantung, serta gagal nafas akibat virus difteri.

“Kalau melihat jumlah pasien difteri sejak Desember 2017 hingga Juli 2018, maka memperlihatkan gejala peningkatan yang signifikan. Kami membutuhkan ruang rawat yang lebih memadai untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan jumlah pasien difter pada bulan-bulan ke depan,” beber Hapsari. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya