Pasien Difteri di Semarang Tambah Satu Orang

Dokter spesialis anak RSUP dr. Kariadi Semarang, Hapsari (paling kiri), saat meninjau ruang isolasi difteri di RSUP Kariadi, Senin (23/7 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
23 Juli 2018 17:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Pasien difteri di Kota Semarang bertambah satu orang. Kali ini infeksi yang disebabkan bakteri Corynebacterium Diphtheriae itu menyerang gadis cilik bernama A, 11, warga Perum Korpri, Bangetayu, Kecamatan Genuk, Kota Semarang.

Dokter spesialis anak RSUP dr. Kariadi Semarang, Hapsari, menyebutkan A dirujuk ke RSUP dr. Kariadi, sejak Sabtu (21/7/2018). Ia dirawat dengan kondisi leher mengalami pembengkakan.

"Ia dirujuk dengan kondisi tenggorokan nyeri saat menelan. Saat ini, pasien itu masih dalam proses perawatan dan ditempatkan di ruang isolasi," tutur Hapsari saat dijumpai Semarangpos.com di RSUP dr. Kariadi, Senin (23/7/2018).

Dengan dirawatnya A, praktis saat ini sudah ada lima pasien difteri yang dirawat di RSUP dr. Kariadi, Semarang. Sebelum, A ada lima pasien difteri asal Genuk yang dirawat di RSUP dr. Kariadi.

Kelima pasien itu merupakan satu keluarga yang juga berasal dari Kecamatan Genuk, Kota Semarang. Namun, di antara lima pasien difteri yang masih satu keluarga itu satu orang di antaranya, yakni Bn, 12, tak berhasil diselamatkan dan menghembuskan nafas terakhir, Kamis (19/7/2018) petang.

"Saat ini empat pasien difteri lainnya [saudara Bn] kondisinya sudah membaik. Keempatnya juga sudah ditempatkan di bangsal umum," terang Hapsari.

Hapsari mengaku sangat prihatin dengan maraknya penyebaran virus difteri di Kota Semarang belakangan ini. Terlebih sejak Desember 2017 hingga Juli 2018 sudah ada 23 pasien positif difteri yang dirawat di RSUP dr. Kariadi, Semarang. Dari 23 pasien itu, empat di antaranya meninggal dunia, dua dari Semarang dan orang lagi dari Temanggung.

"Difteri itu bisa dicegah hanya dengan pemberian imunisasi atau vaksinasi. Makanya, saat imbau kepada ibu-ibu untuk rajin memvaksin anak-anaknya. Sekolah juga jangan melarang petugas dari puskesmas untuk masuk sekolah. Ada itu di Semarang sekolah yang melarang atau tidak memperbolehkan puskesmas masuk," imbuh Hapsari.

Kendati sudah banyak warga Semarang yang menderita defteri, Hapsari enggan menyebut Kota Semarang sebagai daerah zona merah difteri atau kondisi luar biasa.

"Saya no-comment kalau soal itu. Itu wewenang yang punya kota untuk menaikan status menjadi KLB [Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi]," imbuh perempuan berkacamata tersebut. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya