75 Kios PKL Bantaran Sungai BKT Dibongkar

Kawasan jual beli onderdil kendaraan di Jl.Barito, Semarang, Jumat (19/1 - 2017). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
24 Juli 2018 13:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Puluhan bangunan pedagang kaki lima (PKL) di bantaran Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) Semarang kembali dibongkar seiring pelaksanaan proyek normalisasi sungai tersebut.

"Ada 75 bangunan yang dibongkar, terdiri atas 40 bangunan di Kelurahan Mlatiharjo dan 35 bangunan di Bugangan," kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto di Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (23/7/2018).

Menurut dia, pembongkaran bangunan PKL di dua kelurahan itu merupakan tindak lanjut pembongkaran bangunan di sepanjang bantaran Sungai BKT yang dilakukan pada pertengahan Juli 2018. Berdasarkan perhitungannya, masih ada sekitar 50 bangunan di dua kelurahan tersebut yang belum dibongkar karena mereka masih meminta dispensasi waktu untuk memindahkan barang-barang.

"Sisanya, masih ada 50 bangunan. Mereka minta waktu untuk membongkar sendiri bangunannya. Ya, kami berikan waktu. Nanti, bangunan PKL di dua kelurahan ini bersih pada ahir Juli ini," katanya.

Ia mengapresiasi para pedagang yang sudah bersedia direlokasi, terutama mereka yang mau pindah secara mandiri, sehingga tinggal bangunan PKL di satu kelurahan lagi, yakni Karangtempel. Fajar memastikan seluruh bangunan PKL di dua kelurahan itu akan dibongkar sehingga tinggal menyisakan bangunan-bangunan PKL yang ada di Kelurahan Karangtempel yang belum dibongkar.

Diakuinya, ada sejumlah bangunan yang difungsikan sebagai hunian sehingga untuk sementara disediakan lapak di Pasar Banjardowo sebagai hunian sembari menunggu rumah susun sederhana sewa (rusunawa). "Karena kami peduli, kami sediakan tempat di pasar [Pasar Banjardowo] sembari menunggu pembangunan Rusunawa Kudu selesai bagi mereka yang belum dapat tempat tinggal," katanya.

Sementara itu, Warto, PKL di Kelurahan Bugangan yang bangunannya belum dibongkar mengaku memang meminta waktu untuk memindahkan barang-barangnya, setidaknya sampai akhir Juli ini. Apalagi, kata dia, lapaknya yang ada di Pasar Klithikan Penggaron atau Pasar Barito Baru Semarang belum jadi sehingga belum bisa dijadikan tempat untuk menaruh barang dari lapak lamanya.

"Jadi bingung mau naruh barang di mana, mau saya taruh di Pasar Klithikan, belum jadi kiosnya. Rencana, nanti mau rumah teman untuk naruh barang-barang ini sementara waktu," ujarnya. Warto mengatakan tidak menolak dipindahkan seiring normalisasi Sungai BKT, tetapi hanya meminta waktu sementara sampai akhir Juli ini untuk memindahkan barang-barangnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara