Pemkot Semarang Tekan Emisi Gas Buang 72 BRT

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi hadir saat dilakukan uji emisi bus rapid transit (BRT) Trans Semarang yang dipasangi konverter compressed natural gas (CNG), di Kota Semarang, Selasa (24/7 - 2018). (Antara/Zuhdiar Laeis)
25 Juli 2018 08:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Sebanyak 72 unit bus rapid transit (BRT) Trans Semarang dipasangi konverter compressed natural gas (CNG) untuk menekan emisi gas buang yang dikeluarkan dari proses pembakaran.

"Ini merupakan bagian kerja sama kami dengan Pemerintah Kota Toyama, Jepang," kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat uji coba BRT Trans Semarang sebelum dan sesudah menggunakan CNG di Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (24/7/2018).

Tokopedia

Sebanyak 72 unit BRT Trans Semarang yang dipasangi konverter itu, kata dia, meliputi Koridor I, V, VI, dan VII, serta yang menuju bandara dengan pemasangan yang ditargetkan selesai 31 Desember 2018. Menurut dia, upaya pemasangan konverter CNG untuk mengombinasi solar tersebut merupakan wujud untuk menyediakan transportasi massal yang ramah lingkungan di Kota Semarang, dimulai dari BRT Trans Semarang.

Selain menekan emisi gas buang, politikus yang akrab disapa Hendi itu mengatakan pemasangan konverter CNG pada BRT Trans Semarang juga bisa menekan biaya operasional yang harus dikeluarkan. Untuk solar, kata dia, biaya yang harus dikeluarkan per liternya berkisar di angka Rp5.150 untuk jarak tempuh 2,5 km pada bus besar dan 3,5 km, sementara dengan konverter CNG lebih irit.

Dari kerja sama tersebut, kata dia, disepakati kedua belah pihak akan menanggung bersama biaya konversi armada BRT Trans Semarang ke CNG yang dikalkulasi membutuhkan setidaknya Rp10 miliar. "Pemkot Semarang mengalokasikan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah [APBD] 2018 sebesar 50%. Artinya, dari Rp10 miliar, pemerintah akan menanggung sekitar Rp5 miliar," katanya.

Dari hasil uji emisi itu, Hendi mengatakan kualitas gas buang semakin baik, yakni emisi dari angka 44,2% bisa turun hingga 12,5% sehingga bisa menjadi transportasi umum ramah lingkungan.

Sementara itu, Kepala Divisi Kebijakan Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Toyama Toshin Takata menjelaskan pihaknya menggelontorkan sedikitnya 36 juta Yen untuk menciptakan transportasi ramah lingkungan. Dengan berkurangnya emisi gas buang, kata dia, udara dan lingkungan Kota Semarang akan lebih terjaga secara baik, sekaligus bisa semakin mempererat hubungan antara Indonesia-Jepang, khususnya Semarang-Toyama.

Mengenai konversi itu, Toshin mengatakan tidak seluruhnya bahan bakar solar akan tergantikan dengan gas (CNG), tetapi komposisi solar memang berkurang menjadi 30%, sementara 70%nya adalah CNG. Pemasangan konverter CNG itu, dikatakannya, mampu menekan penggunaan bahan bakar solar sampai 70%, sementara tenaga yang dihasilkan justru mengalami peningkatan sampai 30%.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara