Perayaan HAN di Semarang, Hendi Ajak Anak Indonesia Dolanan Tradisional

Salah satu penampilan siswa SMP di Semarang saat perayaan Hari Anak Nasional (HAN) 2018 di Kota Semarang, Kamis (26/7 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
27 Juli 2018 08:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG —Puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2018 di Kota Semarang, Kamis (26/7/2018) berlangsung cukup meriah. Sederet dolanan atau permainan tradisional ditampilkan dalam  acara yang digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Kota Semarang itu.

Ratusan siswa SD hingga SMA dari berbagai sekolah di Kota Semarang turut hadir dalam perayaan HAN itu. Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, juga turut hadir dalam acara yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang bekerja sama dengan Yayasan Anantaka itu.

Tokopedia

Dalam sambutannya, wali kota Semarang yang akrab disapa Hendi itu menyebutkan pentingnya dolanan tradisional bagi perkembangan karakter anak di era modern saat ini. Permainan tradisional tidak hanya memberikan kesenangan bagi anak, tapi juga melatih imajinasi, interaksi serta kekompakan.

“Banyak nilai moral yang bisa membentuk karakter anak dalam dolanan tradisional. Misalnya, hompimpa alaium ambreng, kata itu berasal dari bahasa Sanksekerta yang berarti dari Tuhan kembali ke Tuhan. Permainan itu memberi pesan supaya kita selalu legawa. Saat kalah Hompimpa apa ada yang pukul-pukulan?” ujar Hendi dalam sambutannya di Peringatan HAN 2018 bertajuk Dolanan Sebagai Interaksi Sosial itu.

Selain Hompimpa, lanjut Hendi, contoh lainnya ada dalam permainan engklek yang harus melompati 7 kotak. Permainan itu memiliki pesan bahwa selama satu minggu setiap orang harus bekerja keras untuk mencapai tujuan.

Sementara itu, Direktur Program Perlindungan Anak Yayasan Antaka, Tsaniatus Solihah, menjelaskan peringatan HAN 2018 telah dimulai sejak 6 Juli lalu. Berbagai lomba diadakan, seperti pantomim, pidato bahasa Jawa, macapat, tari semarangan, menggambar, dan lain-lain.

Pengambilan tema Dolanan Sebagai Wadah Interaksi Sosial, lanjut Tsaniatus, merupakan turunan dari tema besar pemerintah pusat, yakni Anak Genius (Gesit Empati Berani Unggul Sehat).

“Tema ini diambil dari empatinya, bagaimana anak-anak di Kota Semarang supaya menumbuhkan rasa empati melalui permainan tradisional sehingga bisa melakukan interaksi sosial dan menumbuhkan empati,” ujar perempuan yang akrab disapa Ika Camelia itu.

Perayaan HAN 2018 di TBRS diikuti sekitar 500 anak. Selain berinteraksi dalam permainan tradisional, anak-anak itu juga melakukan minum susu murni serentak bersama wali kota Hendi. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya