Begini Upaya Pemkot Semarang Wujudkan KLA Utama

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, memberikan pidato dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2018 di Taman Budaya Raden Saleh, Kamis (25/7 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
27 Juli 2018 13:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, menargetkan Kota Semarang meraih predikat utama Kota Layak Anak (KLA) pada 2021 mendatang.

Hal ini disampaikan wali kota yang akrab disapa Hendi itu saat menghadiri puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2018 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Kamis (26/7/2018).

“Saat ini kita baru saja dianugerahi predikat KLA tingkat madya. Tapi itu masih kurang, yang bagus itu predikatnya utama. Target kita hingga 2021 nanti, Semarang sudah meraih predikat utama,” ujar Hendi saat dijumpai wartawan di TBRS, Kamis.

Hendi mengaku berbagai upaya untuk mewujudkan Kota Semarang sebagai KLA utama terus digalakkan. Salah satunya yakni dengan memperbanyak ruang publik yang ramah bagi anak-anak, seperti taman bermain maupun fasilitas olahraga.

Hendi menyebutkan selama 2017, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang telah berhasil membangun 20 taman dan lima lapangan atau fasilitas olahraga. Sedangkan, pada 2018 ini Kota Semarang menargetkan pembangunan 16 taman dan tujuh lapangan olahraga.

“Kalau banyak taman dan lapangan olahraga tentu akan menjadikan anak-anak di Kota Semarang lebih aktif dalam berinteraksi. Lapangan dan taman itu bisa digunakan sebagai tempat berkumpul atau ruang publik bagi anak-anak,” ujar Hendi.

Selain membangun fasilitas umum, Hendi juga akan mencanangkan program kampung yang ramah terhadap anak-anak.

“Jadi nanti akan ada seperti kampung yang bebas merokok, artinya tidak boleh ada orang yang merokok sembaranga. Itu salah satu upaya kami membangun Kota Semarang sebagai Kota Layak Anak,” tutur politikus PDIP itu.

Sementara itu, dalam perayaan HAN 2018 di TBRS, Hendi mengajak anak-anak di Kota Semarang lebih akrab dalam memainkan permainan tradisional. Ia mengaku prihatin karena selama ini banyak anak-anak yang cenderung lebih senang bermain dengan gawai dibanding permainan tradisional, seperti engkrang, hompimpa, dan dolanan tradisional lainnya.

Hendi menilai permainan tradisional banyak mengandung nilai-nilai moral yang bisa membentuk karakter anak menjadi lebih baik.

“Sesuai dengan peringatan Hari Anak Nasional 2018 di Kota Semarang yang bertema Dolanan sebagai Wadah Interaksi Sosial, kami ingin anak-anak didorong secara serius untuk memainkan permainan tradisional. Ini bagian dari upaya kami melakukan pembentukan karakter bagi anak-anak di Kota Semarang," jelasnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya