Gara-Gara Monopoli Bulog dan Impor Gula, 600.000 Ton Gula Petani Tak Laku-Laku

Dua pekerja mengangkut gula petani di Pabrik Gula Rendeng Kudus, Jawa Tengah. (Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
27 Juli 2018 18:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, KUDUS — Ketentuan yang hanya memperbolehkan Perum Bulog berjualan gula curah ke pasar membuat gula petani tak laku-laku. Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mengungkapkan sekitar 600.000 ton gula curah petani tak diterima pasar gara-gara aturan monopoli tersebut.

"Hingga kini pedagang belum berani menyerap gula petani karena selain pertimbangan aturan hanya Perum Bulog yang bisa menjual ke pasaran, pedagang juga mempertimbangkan kemungkinan adanya penurunan harga jual di pasaran," kata Sekretaris Jenderal DPN APTRI M. Nur Khabsyin di Kudus, Jawa Tengah, Kamis (26/7/2018).

Pasalnya, kata dia, persediaan gula konsumsi tahun 2018 sangat berlebih. Selain ada sisa stok tahun lalu yang mencapai 1 juta ton, kata dia, terdapat pula impor gula konsumsi tahun 2018 sebanyak 1,2 juta ton ditambah hasil produksi tahun 2018 sebanyak 2,1 juta ton. Jumlah tersebut, kata Khabsyin, masih ditambah dengan adanya rembesan gula rafinasi ke pasaran yang diperkirakan mencapai 800.000 ton.

"Jika dijumlahkan seluruhnya, maka persediaan gula konsumsi tahun ini berkisar 5,1 juta ton," simpulnya.

Sementara itu, kebutuhan gula konsumsi pada tahun 2018 ini diperkirakan hanya 2,7 juta tom hingga 2,8 juta ton. Dengan demikian, terdapat kelebihan stok 2,4 juta ton gula di pasar Indonesia.

Ia mengaku pesimistis Perum Bulog serius membeli gula petani. Pasalnya, pada tahun 2-17 lalu pun, pembelian gula belum terealisasi. Bahkan, meskipun Bulog mendapatkan penugasan untuk membeli gula tani.

"Jika gula tani hanya dihargai Rp9.700/kg, tentunya mengancam keberlangsungan petani gula di Tanah Air," ujarnya.

Usulan petani, kata dia, gula tani dihargai Rp11.000/kg agar ada keuntungan, meskipun HPP-nya mencapai Rp12.000/kg. Ia menuntut pemerintah bertanggung jawab atas kondisi gula petani saat ini yang belum terserap ke pasar.

"Perlu dicatat, bahwa musim giling tahun 2016, gula tani laku dengan harga rata-rata Rp11.500/kg pada situasi pasar gula dalam kondisi normal dan impor secukupnya sesuai kebutuhan," ujarnya.

Sementara itu, harga jual gula petani saat ini, katanya, berkisar Rp9.100 hingga Rp9.300/kg. Angka itu masih di bawah biaya pokok produksi (BPP) sebesar Rp10.600/kg. Rendahnya harga gula tersebut disebabkan adanya kebijakan pemerintah terkait impor yang diduga tidak terkendali serta surat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian nomor S-20 dan Surat Kementerian Perdagangan No. 885, surat Dirjen PDN Kemendag No. 456 yang intinya Bulog yang membeli gula tani dengan harga Rp9.700/kg dan hanya Bulog yang boleh menjual gula curah atau karungan ke pasar.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara