Puluhan Desa di Grobogan Krisis Air Bersih

Warga Desa Mangunrejo, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Jateng antre air bersih yang diantarkan PMI ke desa mereka. (Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
28 Juli 2018 09:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, GROBOGAN — Puluhan desa di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih menyusul sudah mengeringnya sumur di wilayah setempat pada musim kemarau 2018 ini.

"Kami mencatat jumlah desa yang mulai krisis air bersih hingga saat ini mencapai 82 desa yang tersebar di 12 kecamatan di Kabupaten Grobogan," ungkap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan Agus Sulaksono, Kamis (26/7/2018).

Puluhan desa tersebut, diakuinya sudah mengajukan bantuan air bersih ke pemerintah kabupaten. Droping air bersih ke desa-desa itu pun telah dilakukan sejak awal Juli 2018 dan hingga kini sudah mencapai 60-an tangki.

Selain melakukan pengantaran air bersih ke desa-desa yang krisis air bersih, lanjut dia, BPBD Grobogan juga mencoba membuat sumur dangkal dengan kedalaman sekitar delapan meter sebagai penampungan air ketika musim penghujan untuk dijadikan cadangan saat musim kemarau. Untuk sementara, kata dia, uji coba tersebut dilakukan di Pulokulon, Grobogan.

"Jika berhasil, tentunya bisa ditiru untuk daerah lainnya," ujarnya.

Pemkab Grobogan diakuinya telah berkoordinasi dengan stakeholder guna mengurangi beban waga yang tengah kesulitan air bersih itu, "Kami juga berkoordinasi dengan sejumlah perusahaan yang berkeinginan membantu warga yang membutuhkan air bersih," tuturnya.

Beberapa perusahaan yang peduli atas bencana kekeringan yang dialami 82 desa, kata dia, diarahkan untuk membantu penyediaan air bersih di daerah tertentu sehingga droping air bersih nantinya bisa merata.

Pemerintah sendiri menyiapkan dana kekeringan hingga Rp175 juta. "Jika kurang masih bisa diambilkan dari dana tidak terduga yang disediakan hingga Rp3 miliaran," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, Pemkab Grobogan juga bisa mengajukan bantuan ke Pemerintah Provinsi Jateng. Sekda Grobogan Moh. Sumarsono mengungkapkan ‎krisis air bersih saat kemarau memang menjadi perhatian serius karena hasil riset geologi disebutkan bahwa Kabupaten Grobogan merupakan kawasan yang minim pasokan air tanah.‎

Keberadaan PDAM Grobogan, katanya, masih fokus mengakses wilayah perkotaan dan belum bisa mencakup wilayah terpencil.‎‎ "Untuk itu, Pemkab Grobogan terus berupaya intensif untuk mencukupi kebutuhan air bersih bagi warga terdampak kemarau," ujarnya.

Pemkab Grobogan juga membantu lewat program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas)‎ yang berlangsung sejak tahun 2008. Dari 273 Desa yang tersebar di 19 kecamatan, program Pamsimas telah berjalan di 150 desa.

‎Melalui program Pamsimas, setiap desa disediakan sumur, bak penampungan air, jaringan dan sambungan ke masing-masing rumah penduduk dengan anggaran untuk setiap paket Pamsimas‎ sebesar Rp300 juta. Hanya saja, program tersebut terkendala dengan minimnya sumber air tanah sehingga terdapat sejumlah fasilitas air bersih tersebut tidak bisa dioperasikan karena sumber air tanahnya habis.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara