Pelarangan Antibiotik Growth Promoter Bikin Peternak Ayam Potong Kudus Waswas

Ilustrasi peternakan ayam ras. (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
29 Juli 2018 22:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, KUDUS — Peternak ayam potong di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah mengkhawatirkan adanya serangan penyakit mematikan pada ayam potong peliharaan mereka menyusul adanya larangan penggunaan antibiotik growth promoter (AGP) pada pakan ternak.

"Sejak adanya pelarangan penggunaan AGP, tercatat lima kali mengalami kerugian karena banyaknya ayam yang mati diserang penyakit," ungkap Kahar, salah seorang peternak ayam potong di Desa Pasuruhan Kidul, Kecamatan Jati, Kudus, Jatenh, Kamis (26/7/2018).

Tokopedia

Untuk panen terakhir, dia bersyukur masih bisa menghasilkan dan mendapatkan tambahan penghasilan menyusul tingginya harga daging ayam potong di pasaran. Dari 20.000 ekor ayam potong yang dipelihara, kata dia, saat panen pada Juli 2018 tercatat ada 19.000 ekor ayam yang bisa dipanen, sedangkan 1.000 ekor di antaranya mati karena serangan penyakit.

Sebelumnya, kata dia, pasca pelarangan AGP pada pakan ternak, dari 40.000 ekor ayam yang diternak tercatat ada 9.000-an ekor yang mati akibat serangan berbagai penyakit. Di antaranya, lanjut dia, diserang penyakit newcastle (Newcastle disease/ND) dan koli.

Ia menduga pelarangan tersebut berimbas pada harga jual daging ayam potong di pasaran melambung tinggi karena terbatasnya stok ayam potong di pasaran. Pasalnya, terang dia, banyak peternak yang mengalami penurunan produktivitas akibat banyaknya ayam yang mati akibat serangan penyakit.

"Penggunaan AGP memang mampu meminimalkan kematian pada ayam potong, sehingga prodduktivitasnya bisa terjaga," ujarnya.

Seharusnya, kata dia, pelarangan tersebut juga dibarengi dengan penyediaan antibiotik alternatif agar peternak ayam potong tidak mengalami kerugian yang lebih besar. Hingga kini, dia mengaku masih mengkhawatirkan adanya serangan penyakit yang bisa mengakibatkan kematian ayam dalam jumlah besar serta melambungnya harga jual pakan yang bisa berimbas pada pendapatan.

Yudi, peternak ayam lainnya mengakui hal yang sama bahwa dengan adanya pelarangan AGP pada pakan ternak memang masih menjadi kekhawatiran akan terjadinya kegagalan panen. "Saya sudah mengalami sendiri dari 40.000 ekor ayam yang dipelihara pada usia 18 hari mati karena serangan penyakit," ujarnya.

Kondisi tersebut, kata dia, tentunya merugikan peternak karena tidak mendapatkan keuntungan mengingat biaya operasionalnya juga cukup besar. Beruntung, lanjut dia, hasil panen terakhir bisa mendapatkan keuntungan, terlebih harga jual daging ayam potong di pasaran juga sedang tinggi.

Adanya pelarangan AGP tanpa diimbangi dengan penyediaan antibiotik alternatif, kata dia, memang merugikan peternak karena banyak peternak yang gagal panen dan kalaupun mendapatkan hasil kurang memuaskan. Informasinya, kata dia, saat ini sudah ada pengganti AGP, meskipun hasilnya belum seperti saat menggunakan AGP.

Terkait kenaikan harga pakan, dia memperkirakan, baru dirasakan pada musim pemeliharaan sekarang karena sebelumnya dimungkinkan masih harga lama sehingga belum banyak terpengeruh fluktuasi harga pakan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

 

Sumber : Antara