Ustaz Abdul Somad Ajak Rawat Multikulturalisme

Tablig akbar menghadirkan Ustaz Abdul Somad di Auditorium Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Senin (30/7 - 2018). (Antara/Zuhdiar Laeis)
31 Juli 2018 05:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Ustaz Abdul Somad mengajak masyarakat Indonesia merawat multikulturalisme Indonesia. "Indonesia itu berasal dari kata ‘Indo’, yakni India dan ‘nesia’ atau pulau-pulau. Artinya, pulau-pulau yang ada di balik Negara India," katanya saat tablig akbar di kampus Unissula Semarang, Jawa Tengah, Senin (30/7/2018).

Staf pengajar di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau itu mengingatkan bahwa negeri ini bukan dinamakan negeri Jawa, dan sebagainya, tetapi mendeklarasikan sebagai bangsa yang satu, berbahasa satu, dan bertanah air satu, yakni Indonesia. Masyarakat Jawa dipersilakan mengajarkan bahasa Jawa kepada anak-anaknya, demikian pula masyarakat Sumatra, dan daerah lain dengan berbagai budaya lainnya, tetapi tetap menjaga keindonesiaan.

Tokopedia

"Jangan sampai kemudian kehilangan identitas. Silakan orang belajar bahasa Jawa, bahasa Sumatra, tetapi tetap cinta Indonesia, tetap menjaga keindonesiaan," kata sosok kelahiran Silo Lama, Sumatra Utara itu di hadapan jemaah yang memadati auditarium kampus Unissula Semarang.

Ustaz Abdul Somad menyebutkan Madinah bisa dijadikan sebagai contoh atau simbol masyarakat multikulturalisme pada zaman Nabi Muhammad SAW dengan banyaknya suku, agama, dan budaya masyarakatnya. "Madinah merupakan simbol masyarakat multikulturalisme. Ada Maria Qibtiyah yang beragama Kristen Koptik, ada Salman Al Farisi dari Persia, dan banyak lagi," kata ulama kelahiran 18 Mei 1977 itu.

Dijelaskannya, Islam mengajarkan ukhuwah islamiyah bagi sesama muslim, ukhuwah wathoniyah sebagai sesama bangsa, ukhuwah basyariah sebagai sesama manusia, dan ukhuwah khalqiyah sebagai sesama mahluk Allah SWT. "Sesama Islam bersaudara, yakni ukhuwah islamiyah. Saya dengan tetangga, Pak Panjaitan juga bersaudara karena sama-sama sebangsa, itu ukhuwah wathoniyah, kemudian sesama manusia ukhuwah basyariah," kata lelaki Batak bermarga Batubara itu.

Ada lagi, kata dia, ukhuwah kholwiyah sebagai sama-sama makhluk Allah SWT sehingga tidak boleh menyakiti hewan dan tanaman, apalagi membunuhnya tanpa alasan karena dilarang tegas dalam Islam. Ajaran untuk menjaga alam semesta sudah diajarkan Nabi Muhammad SAW sejak 14 abad lalu, lanjut dia, sebab hewan dan tumbuhan sama-sama makhluk Allah yang hidup sehingga tidak boleh disakiti atau disiksa.

"Jangan seenaknya menebang pohon tanpa alasan, beda lagi kalau mau ditanam padi, boleh. Bahkan, ular dan kalajengking yang mengganggu dibunuh dengan sekali bunuh, tidak boleh disiksa," tegasnya.

Umat Islam, kata dia, sekarang ini terpecah belah, padahal Islam adalah rahmatan lil alamin yang harus dimulai dari diri sendiri sebagai seorang muslim dengan menebarkan kedamaian kepada sekitar. "Mulai dari diri sendiri dan jangan tunda mulai hari ini dalam lingkungan terdekat. Pulang mengaji ini, hati-hati, jangan rebut-rebutan, gesek-gesekan, kalau ada sampah dipungutin," katanya.

Hadir dalam kesempatan itu, Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Irjen Pol. Condro Kirono, beserta jajaran, termasuk kalangan DPRD Kota Semarang, seperti Agung Budi Margono dan Joko Santoso. Sebagaimana diwartakan, sempat terjadi penolakan dari sejumlah organisasi kemasyarakatan atas penyelenggaraan tablig akbar yang menghadirkan Ustaz Abdul Somad di Kota Semarang.

Penolakan yang disampaikan oleh ormas PGN, FKPPI, Laskar Merah Putih, dan Banser NU Kota Semarang itu disebabkan Ustaz Abdul Somad kerap dikaitkan dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Nyatanya, pelaksanaan tablig akbar berjalan lancar dengan pengamanan dari Polda Jateng, tentara, dan sejumlah ormas, seperti Pemuda Pancasila dan Front Pembela Islam yang berjaga di pintu masuk Kampus Unissula Semarang.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara