PG Rendeng Bantah Cemari Sungai Pendo

Warga mengamati tanaman yang tetap hidup meskipun mendapatkan pasokan air limbah di kawasan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) wetland milik PG Rendeng Kudus, Jateng, Rabu (1/8 - 2018). (Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
01 Agustus 2018 22:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Manajemen Pabrik Gula Rendeng membantah limbah dari perusahaan itu mencemari Sungai Pendo di Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Sebelum dialirkan ke sungai, limbah pabrik itu terlebih dahulu diolah melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

"Hingga kini air limbah yang dikeluarkan terus dipantau dan dianalisis lewat IPAL yang berada di lingkungan pabrik," kata Kepala Bagian Proses PG Rendeng, Lilik Agung Prabowo menanggapi tuduhan pencemaran aliran Sungai Pendo di Kecamatan Mejobo, Kudus, Jateng, Rabu (1/6/2018).

Tokopedia

Selain itu, kata dia, limbah yang dibuang juga dipastikan sesuai standar ketentuan Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kudus dan Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) Jateng. Demi memastikan air limbah yang dialirkan ke sungai tidak mengganggu lingkungan hidup, air bahkan terlebih dahulu dilewatkan pada tanaman.

"Jika tanaman air tersebut mati, tentunya menjadi peringatan bagi kami," ujarnya.

Kenyataannya, selama ini, lanjut dia, tanaman airnya tetap hidup dan berkembang dengan baik. Petani di Desa Mlati, Megawon, dan Tumpang Krasak yang meminta suplai air limbah dari PG Rendeng, lanjut dia, hingga kini belum bisa direalisasikan karena belum ada surat rekomendasi dari PKPLH Kudus.

Ia menyarankan petani setempat untuk berkirim surat ke dinas terkait karena sepanjang belum ada surat tertulis dari dinas terkait, maka air tidak akan dikeluarkan. "Pada musim kemarau seperti sekarang, para petani memang membutuhkan air, termasuk mereka yang selama ini merasakan manfaat air dari PG Rendeng," ujarnya.

Adanya permintaan air limbah dari PG Rendeng tersebut, menjadi bukti bahwa airnya tidak mencemari justru sangat bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman padi. Terkait tuduhan pencemaran, khususnya pada musim giling tebu, Lilik menampik bahwa hal itu karena limah dari PG Rendeng karena saat musim kemarau seperti sekarang debit air limbah yang dikeluarkan justru kecil.

"Bisa saja pencemaran tersebut karena keberadaan pabrik tahu," ujarnya.

Ia mempersilakan dinas terkait untuk mengambil dan menganalisis sampel air yang diduga tercemar itu. Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, warga Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus mengeluhkan tercemarnya air Sungai Pendo yang diduga akibat pembuangan limbah dari PG Rendeng Kudus.

Pencemaran sungai tersebut diduga sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu, namun akhir-akhir ini warga merasakan pencemarannya semakin parah. Selain dampak bau yang sangat mengganggu, warga juga merasakan pusing, hingga mual-mual akibat bau tidak sedap tersebut. Padahal jarak antara PG Rendeng dengan Desa Mejobo mencapai sekitar 12 km.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara