Jajakan Air di Kota Lama Semarang, Kakek-Kakek asal Sukoharjo Raup Jutaan Rupiah

Sarman, pedagang air bersih di Semarang, saat mengisi air ke dalam jeriken untuk dijajakan ke warga di sekitar kawasan Kota Lama, Rabu (1/8 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
02 Agustus 2018 12:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Teriknya matahari terasa menyengat di kawasan Kota Lama, Semarang, Rabu (1/8/2018). Meski demikian, cuaca panas itu tak menyurutkan niat Sarman untuk terus menimba air di sumur yang terletak di sebelah Taman Srigunting.

Tangan kakek yang memiliki empat orang cucu itu begitu cekatan menimba air. Air hasil menimba itu lantas ia masukkan ke dalam belasan jeriken yang telah disiapkan di atas gerobak.

Air bersih yang berada dalam jeriken itu lalu dijajakan Sarman kepada warga yang tinggal di sekitar kawasan Kota Lama. Satu jeriken yang berisi 15 liter air bersih itu biasanya dijual Sarman seharga Rp1.500.

“Lumayan hasilnya. Bisa buat menyambung hidup di Kota Semarang dan juga dikirim ke keluarga di kampung,” ujar kakek yang mengaku berasal dari Tawangsari, Sukoharjo, itu saat berbincang dengan Semarangpos.com di kawasan Kota Lama, Semarang, Rabu (1/8/2018).

Sarman mengaku saat musim kemarau seperti saat ini, permintaan akan air bersih memang cenderung meningkat. Saban hari, ia bahkan mampu menjual air bersih sekitar 98 jeriken atau sekitar tujuh gerobak, dengan keuntungan mencapai Rp147.000. Jika ditotal, ia mampu meraup pendapatan sekitar Rp4.410.000 setiap bulannya.

“Biasanya yang paling banyak beli itu para pedagang makanan yang ada di sekitar kawasan Stasiun Tawang. Sekali beli bisa mencapai empat jeriken. Kalau rumah tangga, belinya hanya saat leding [saluran air] mati. Kemarin pas puasa, ledingnya sering macet,” ujar Sarman.

Sarman, pedagang air bersih di Semarang, saat mengisi air ke dalam jeriken untuk dijajakan ke warga di sekitar kawasan Kota Lama, Rabu (1/8/2018). (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)

Sarman mengaku sudah berjualan air bersih secara keliling di sekitar kawasan Kota Lama sejak 1977. Dari hasil berjualan air bersih itu, Sarman mampu menyekolahkan kedua anaknya hingga lulus SMA dan berkeluarga.

“Anak saya yang paling besar sekarang tinggal di Sulawesi. Kalau yang bungsu tinggal di desa, usaha menjahit,” beber Sarman.

Sarman bukan satu-satunya penjaja air bersih di kawasan Kota Lama. Ada beberapa pedagang air bersih yang setiap harinya menggantungkan rezeki dari sumur tua peninggalan Belanda yang ada di samping Taman Srigunting.

Sumur tua itu tak pernah surut saat musim kemarau. Bahkan, sumur itu kerap digunakan kendaraan pemadam kebakaran saat terjadi insiden kebakaran di sekitar lokasi itu.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah (Jateng), Sarwa Pramana, menyatakan beberapa wilayah telah terdampak kekeringan akibat musim kemarau panjang.

Guna mengatasi bahaya kekeringan itu, pihaknya pun sudah mengirimkan sekitar 1.195 tangki berisi air bersih ke 221 desa dari 93 kecamatan yang terdampak kekeringan sejak 30 Juli lalu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tokopedia