Arkeolog Prancis: Candi Siwa di Mijen Mirip Prambanan

Arkeolog dari Sekolah Prancis untuk Timur Jauh (EFEO), Veronique Degroot, tengah meneliti situs di Kampung Duduhan, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Kamis (2/8 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
03 Agustus 2018 12:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Arkeolog Sekolah Prancis untuk Timur Jauh (EFEO), Veronique Degroot, memprediksi situs candi yang ditemukan di kawasan perkebunan penduduk di Kampung Duduhan, Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, jawa Tengah mirip dengan Candi Prambanan yang terdapat di Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Perkiraan itu disampaikan Veronique setelah melakoni proses ekskavasi tahap kedua situs candi di Mijen, sejak 25 Juli. Dalam ekskavasi yang berlangsung hingga Minggu (5/8/2018) itu, pihaknya telah menemukan situs baru berupa tiga candi pewara.

Ketiga situs candi pewara itu terletak di sisi timur situs candi induk yang diduga sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa. “Saya rasa candi ini sezaman dengan Candi Prambanan. Ada candi induk dan candi pewara. Hanya bahan bangunannya sedikit berbeda. Di sini lebih banyak menggunakan batu bata. Tapi, itu perlu kami teliti lebih lanjut,” ujar Veronique saat berbincang dengan Semarangpos.com di lokasi penggalian.

Dalam proses ekskavasi itu, Veronique tidak bekerja sendiri. Ia melakukan penelitian bersama para arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) di bawah koordinasi Agus Trijanto Indrajaya.

Proses penelitian adanya candi peninggalan zaman Mataram Hindu di Mijen, Kota Semarang, sebenarnya sudah dilakukan sejak 1970-an. Kala itu di lokasi itu ditemukan dua buah arca berbentuk Dewa Ganesa dan Nandi, yang merupakan keluarga serta wahana Dewa Siwa.

Arca Ganesa yang diduga peninggalan abad ke-9 itu, saat ini telah ditempatkan di Museum Ranggawarsita, Kota Semarang. Sementara, arca Nandi tak terawat dan rusak setelah diangkut warga sekitar dan diletakan di perempatan jalan kampung.

Proses ekskavasi situs candi di Mijen itu dimulai pada 2015. Saat itu, para arkeolog berhasil menemukan candi induk yang diduga menjadi tempat pemujaan bagi Dewa Siwa, serta beberapa titik lokasi candi pewara.

Setelah tiga tahun berselang, penggalian dilanjutkan di tiga titik yang diduga lokasi candi pewara. Ke depan, penggalian akan dilakukan untuk mencari lokasi pagar yang mengelilingi candi tersebut.

“Kalau boleh dikatakan, proses ekskavasi candi induk baru sekitar 25%. Kalau perwaranya baru beberapa persen. Kami masih mencari pagar candi, karena kemungkinan di sini dulu sebuah perkampungan,” beber Veronique.

Sementara itu, Agus Trijanto berharap proses ekskavasi situs candi di Mijen, Kota Semarang itu bisa berjalan secara berkelanjutan. Hasil penggalian tahap kedua itu rencana akan diteliti lagi dan dilaporkan ke pemerintah pusat guna mendapat rekomendasi penelitian selanjutnya.

“Penelitian ini sangat penting, terlebih bagi Kota Semarang. Ini merupakan salah satu situs sejarah peninggalan zaman Mataram Hindu di Semarang. Ini bisa jadi penelitian tentang masuknya agama Hindu di wilayah pesisir,” tutur Agus.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya