BPBD Jateng Sebut Grobogan Terparah Kena Dampak Kemarau Panjang 2018

Ilustrasi distribusi air bersih oleh BPBD. (Antara/Ardiansyah)
04 Agustus 2018 10:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Jumat (3/8/2018), mencatat Kabupaten Grobogan menjadi daerah terparah di Jateng yang terdampak bencana kekeringan pada musim kemarau 2018 ini.Terdapat 12 kecamatan dengan 37 desa yang mengalami krisis air bersih di Grobogan.

Kabupaten terparah kedua yang mengalami kekeringan dan krisis air bersih adalah Kebumen, dengan 27 desa di 11 kecamatan. Diikuti kemudian Purworejo, Sragen, Cilacap, dan 16 kabupaten/kota lainnya yang pada kemarau tahun ini terkena bencana kekeringan.

Kondisi itu meningkat dibandingkan data sebelumnya. Pada pendataan akhir bulan Juli 2018 lalu, tercatat hanya ada 221 desa di 93 kecamatan Jateng yang terdampak kekeringan.

Demi mengatasinya, BPBD Jateng menyalurkan lebih dari 8 juta liter air bersih kr 21 kabupaten dan kota di seluruh Jateng. Kepala BPBD Jateng Sarwa Pramana mengatakan pihaknya telah mengirimkan 1.770 tanki air bersih ke 112 kecamatan dan 276 desa terdampak bencana kekeringan. Jumlah itu telah bertambah sejak penghitungan akhir bulan Juli 2018 lalu.

"Delapan juta liter lebih air sudah terkonsumsi untuk masyarakat. Ini tentunya di luar kebutuhan untuk area pertanian. Saya lihat di media, sudah mengalami kendala. Tadi pertanian tembakau, kurang air bersih," ujar Sarwa saat dijumpai Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) di kantornya, Kota Semarang, Jateng, Jumat (3/8/2018).

Sarwa menuturkan pengiriman air bersih masih menjadi fokus BPBD Jateng untuk menanggulangi kekeringan. Dia menuturkan pihaknya sampai meminjam mobil tangki air milik eks bakorwil untuk pendistribusian air bersih.

"Harapan kami untuk masyarakat yang berdomisili di daerah pegunungan. Ini sangat menyulitkan betul untuk kebutuhan air bersihnya. Karena cuaca ekstrem untuk cuaca kemarau ini juga lumayan tinggi, terutama dari BMKG sudah merilis, ada daerah-daerah yang kemaraunya lebih panjang," jelasnya. 

Sarwa mengatakan pihaknya merencanakan akan melakukan pengeboran untuk memperoleh air bersih sebanyak mungkin. Namun, langkah ini belum bisa terealisasi karena harus bekerja sama dengan pemerintah daerah serta Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng.

"Prediksi saya ini akan lebih parah. Tapi tidak terlalu lama karena kategorinya kemarau basah. Kemarin di Kebumen sudah hujan kecil. Tapi khusus tahun ini, kemaraunya sangat ekstreme. Harapan kami September atau Oktober sudah ada yang hujan," ujarnya. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis