Menteri Yohana Ajak Kampus Lindungi Perempuan dan Anak

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise di Kampus Universitas Kristen Satya Wacana di Kota Salatiga, Jumat (3/8 - 2018). (Antara/Wisnu Adhi)
04 Agustus 2018 07:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SALATIGA — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise mengajak kalangan akademisi di kampus-kampus perguruan tinggi berperan aktif memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak yang rentan mengalami kekerasan.

"Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia termasuk tinggi sehingga perlu ada upaya-upaya perlindungan dari semua pihak," kata Menteri Yohana saat menjadi pembicara kunci pada Pertemuan Reuni Senior Perempuan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Balairung Utama, Kampus Universitas Kristen Satya Wacana, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Jumat (3/8/2018).

Tokopedia

Yohana Yembise menyebutkan angka kekerasan terhadap perempuan kini mencapai 33,4%. Dengan kata lain, satu di antara tiga perempuan di Indonesia mengalami tindak kekerasan. Baik itu kekerasan fisik, psikis, maupun kekerasan seksual.

Kekerasan terhadap anak di Indonesia juga cukup tinggi. Karenanya, Yohana mendukung vonis maksimal bagi para pelakunya, seperti hukuman penjara seumur hidup, hukuman berupa suntikan kebiri, hukuman berupa pemasangan chip di tubuh pelaku, serta pengumuman identitas pelaku.

"Oleh karena itu, saya berpesan kepada para akademisi, termasuk mantan-mantan pengurus GMKI, agar bisa melakukan dan terlibat dalam pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, atau memutus mata rantai kekerasan terhadap perempuan dan anak," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Yohana menekankan pentingnya membantu masyarakat dan menyelamatkan keluarga rentan dari berbagai tindak kekerasan. "Bagi setiap individu, keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat serta tempat pertama dan utama. Pembagian peran dalam mempertahankan keutuhan keluarga, harus dilakukan secara sinergi yang berbasis pada kemitraan gender," tutur Yohana.

Menurut Yohana, pertahanan keluarga yang kurang baik seperti perceraian keluarga, kekerasan dalam rumah tangga akan berdampak buruk pada proses tumbuh kembang anak. Ia mengajak para mahasiswa mengembangkan gagasan One Student Saves One Family karena sebagai insan intelektual dapat berperan aktif membantu mencarikan akses bagi penyelesaian masalah yang dihadapi keluarga, serta mampu membuka akses pada berbagai sumber daya untuk menyelamatkan keluarga yang rentan.

"Gagasan ini menjadi penting bukan hanya manfaat jangka pendek, melainkan juga secara jangka panjang sebab para mahasiswa dapat mempelajari tahapan-tahapan untuk berperan aktif dan berkontribusi secara maksimal untuk membantu menyelesaikan masalah, khususnya yang terkait dengan perempuan dan anak yang dihadapi oleh keluarga rentan," tandas Yohana.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara