Nyadran Sewu Kupat Tanda Panen Temanggung Melimpah

Ribuan ketupat disiapkan warga Dusun Gedongan, Desa Ngemplak, Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jateng untuk ritual Nyadran Sewu Kupat. (Antara/Heru Suyitno)
05 Agustus 2018 22:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, TEMANGGUNG — Warga Dusun Gedongan, Desa Ngemplak, Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (3/8/2018), menggelar ritual Nyadran Sewu Kupat atau seribu ketupat sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahannya hasil panen padi dan kopi.

Dalam ritual tersebut, warga melakukan kirab dari Dusun Gedongan menuju Kali Dawuhan Silenging di tepian hutan desa setempat dengan membawa seribu ketupat dengan cara dipikul sejumlah pemuda. Dalam ritual tersebut, mereka juga membawa sebuah gunungan dari hasil bumi berupa buah-buahan, sayuran, palawija, kopi, dan padi.

Sesampai di lokasi ritual, ketupat-ketupat tersebut digantung pada beberapa tongkat bambu dan gunungan hasil bumi diletakkan paling ujung. Pada puncak acara ritual, setelah dibacakan doa gunungan hasil bumi tersebut diperebutkan oleh warga, sedangkan ribuan ketupat dibagikan kepada warga yang hadir pada ritual tersebut.

Sesepuh Dusun Gedongan Tohadi mengatakan ritual Nyadran Sewu Kupat digelar rutin setiap tahun. Menurut dia seribu ketupat itu terkait erat dengan jumlah ketupat yang disediakan Nyai Lengging untuk Kiai Lengging ketika membuat saluran air Kali Dawuhan untuk mengairi sawah di Dusun Gedongan.

"Ritual ini digelar untuk mengenang jasa Kiai dan Nyai Lengging yang telah membuat saluran air bagi warga. Dulu saluran tersebut dikerjakan selama seribu hari, di mana setiap hari Nyai Lengging menyediakan satu ketupat untuk Kyai Lengging,” katanya.

Ia menuturkan terlepas dari sejarah awal mula ritual Nyadran Sewu Kupat, sampai saat ini jerih payah Kyai Lengging masih dapat dirasakan oleh para petani di Desa Ngemplak dan sekitarnya. Kades Ngemplak Sri Astu Widi Subagyo mengatakan sadran sewu kupat diadakan setiap tahun guna melestarikan tradisi dan mengenang jasa kiai dan nyai Lenging yang membuat saluran air tersebut sehingga tetap bermanfaat hingga saat ini untuk air minum dan pengairan persawahan.

"Meskipun telah ribuan tahun sumber air dan saluran ini tetap bermanfaat, di musim kemarau seperti ini juga tidak pernah kering," katanya.

Dia mengatakan ritual sekaligus untuk menanamkan cinta pada alam semesta. Tanpa pelestarian alam sumber air bisa kering yang berdampak negatif pada warga. Wujud cinta alam itu dilakukan dengan pembersihan lingkungan sumber air, penanaman pohon dan melancarkan saluran air.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara