PLTPB Gunung Slamet Perluas Pengeboran, Begini Komentar Pegiat Lingkungan Hidup

Lingkungan sekitar Gunung Slamet. (Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
06 Agustus 2018 06:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, PURWOKERTO — PT Sejahtera Alam Energi (SAE) selaku pelaksana proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi  atau PLTPB Gunung Slamet, Banyumas, Jawa Tengah menghentikan pengeboran sumur geothermal pertama di well pad H. Alasannya, tidak ditemukan sumber panas bumi sehingga pengeboran akan dilakukan di well pad F yang jaraknya sekitar 3 km dari well pad H.

Modus operandi semacam itu diklaim Komunitas Peduli Slamet atau Kompleet Purwokerto sudah diduga sebelumnya. Dhani Armanto dari Kompleet Purwokerto mengatakan alasan kegagalan pengeboran sumur geothermal di Well Pad H PLTPB Gunung Slamet itu persis seperti yang dikhawatirkan para pegiat lingkungan hidup.

Kegagalan sumur bor akan menjadi alasan korporasi bertindak sewenang-wenang dengan mengajukan izin perluasan area ekplorasi. "Gagal di sumur pertama akan pindah ke sumur berikutnya. Dan akan seperti itu, area semakin luas," kata Dhani sebagaimana dipublikasikan redaksi laman aneka berita Liputan6.com, Kamis (4/8/2018).

Celakanya, menurut dia, pemerintah pun secara semena-mena selalu memberikan izin. Meskipun dampak awal atas eksplorasi sudah terjadi. Dipaparkannya tentang keruhnya air Sungai Prukut dan Sungai Logawa bisa menjadi pertanda awal bahwa eksplorasi PLTPB telah menganggu ekosistem hutan.

Bukan hanya itu, banjir bandang yang terjadi serentak di sungai-sungai yang mengalir di Banyumas dan Purwokerto dan berhulu di lereng Gunung Slamet menjadi penanda lainnya. Terakhir, banjir bandang juga terjadi di Bumiayu, Brebes.

“Pemerintah hanya mau merespons jika dampaknya besar. Contoh, lumpur Lapindo. Celakanya, nanti akan disebut sebagai bencana alam,” ucapnya.

Dia memperingatkan izin perluasan kawasan eksplorasi bakal semakin mengancam ekosistem hutan lindung Gunung Slamet. Dia memperingatkan pula bahwa dalam jangka setahun hingga tiga atau empat tahun ke depan, ancaman bencana banjir dan longsor akan semakin masif.

Berikutnya, dalam kisaran lima hingga enam tahun ke depan, bencana kekeringan juga bakal mengancam warga yang tinggal di lereng selatan Gunung Slamet. Pasalnya, eksplorasi merusak sistem hidrologi hutan yang terbentuk selama ribuan tahun ini.

“Pesan kami kepada masyarakat, mempersiapkan diri untuk hal-hal yang mungkin terjadi,” kata Dhani.

Eksplorasi proyek PLTPB Gunung Slamet menurut catatan Liputan6.com memicu kontroversi di Banyumas. Pasalnya, ekplorasi menyebabkan tercemarnya sejumlah sungai, terutama di Kecamatan Cilongok, Banyumas, akibat hanyutnya sedimen sisa pembukaan lahan dan pengeprasan bukit.

Sungai menjadi keruh. Pembudidaya ikan, peternak dan pelaku industri kecil mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah. “Mereka juga harus menyelesaikan kompensasi kepada masyarakat,” dia menambahkan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara